Cinema Presentation

Selain presentasi dalam format pameran di galeri, terdapat tiga karya dari seniman Belanda, India, dan Jerman yang akan dipresentasikan dalam format sinema di Goethe Institut.
Apart from exhibition format at the main gallery, three works from Dutch, Indian, and German artists will be presented in a cinema format at Goethe Institut.

Leonard Retel Helmrich

The Netherlands
Stand van de Maan (Shape of the Moon)
52′ (2012)

Screening hour: 15.00

Project ini terdiri dari trilogi film Stand van de Zon, Stand van de Maan, dan Stand van de Sterrn. Ketiga film ini merupakan rekaman kehidupan sebuah keluarga kelas pekerja dengan latar belakang keyakinan yang berbeda-beda dalam menghadapi perubahan sosio-politik Indonesia di saat dan pasca reformasi. Hampir satu dekade, sang sutradara mengikuti kehidupan keluarga ini dari Jakarta hingga ke kampung halaman mereka di Jawa Timur.

Dibalik cerita yang di dokumentasikan oleh Leonard Retel Helmreich, proses produksi trilogi ini harus berkompromi dengan fasilitas teknis yang tersedia di Indonesia kala itu. Terlebih ketika para kru harus melangsungkan produksi di desa kecil yang cukup terpisah dari Jakarta. Dibawah keterbatasan ini, Leonard mengembangkan secara mandiri perangkat mobilitas kamera, seperti crane dan dolly, menggunakan sumber daya alam dan teknis yang tersedia di lokasi tersebut. Menariknya, sang sutradara belajar bagaimana memanipulasi kebutuhan teknis ini lewat cara pandang kelompok kelas pekerja dan warga desa dalam beradaptasi (baca: mengakali) dengan perubahan sosial di Indonesia.

Leonard Retel Helmrich lahir pada 1959 di Belanda. Ia menyelesaikan pendidikan di Netherlands Film and Television Academy pada 1986 dengan film fiksi buatannya De Drenkeling (The Drowning Man). Sebagai seorang sutradara film khas pertamanya dibuat pada 1990 berjudul The Phoenix Mystery. Pada 1991 ia mengoperasikan kamera filmnya sendiri dan merekam-menyutradarai documenter berjudul Moving Objects, yang menjadi sukses di kampung halamannya sendiri,Belanda. Ia merekam sekaligus menyutradarai sendiri film-filmnya, dan sangat terkenal untuk filosofi dan pendekatannya yang disebut Single Shot Cinema, yang melibatkan pengambilan gambar yang panjang dengan kamera yang bergerak dengan sangat luwes, bergerak mendekat ke subyek, dan diatas semua itu, adalah konsep framing dan pergerakan kameranya yang menangkap dan membimbing emosi dari penonton.

This project consisted of trilogy movies (Stand van de Zon, Stand van de Maan, and Stand van de Sterrn). The trilogy was documentaries of the lives of working class families with different religious backgrounds in facing social-political changing in Indonesia in the moment of and after Reformation. The director filmed the family journey for a decade (since the family was in Jakarta until they got back to their hometown in East Java). When filming, the film crews had to deal with limited technical devices, especially when they had to execute production process in a small village which was quite far from Jakarta. Under this circumstance, Leonard independently developed mobile camera devices, such as crane and dolly, by using technical and natural resources in the village. Interestingly, the director learnt how to manipulate this technical need with the working class and villagers’ viewpoint in dealing with social changing in Indonesia.

Leonard Retel Helmrich was born in 1959 in the Netherlands. He finished the Netherlands Film and Television Academy in 1986 with his fiction film “De Drenkeling” (The Drowning man). As a director he made in 1990 his first feature film The Phoenix Mystery. In 1991 he operated the film camera himself and filmed and directed the documentary Moving Objects which was an success in the his home country the Netherlands. He shoots as well as directs all his own films, and is best known for a philosophy and approach called ‘Single Shot Cinema’, which involves long takes with a flexible but smoothly moving camera, moving close to the subject, and above all in his films it is the framing and movement of the camera that captures and leads the emotions of the audience.

Marten Persiel

Germany
This Ain’t California
52′ (2012)

Screening hour: 17.00

Negara blok timur selalu diidentikan dengan kepatuhan warga negaranya karena kontrol kekuasaan. Namun film This Ain’t California mendokumentasikan dengan apik dan kronologis kisah pembangkangan sekelompok anak muda di sebelah timur tembok Berlin lewat skateboard. Kesenangan bermain skateboard muncul sebagai penolakan hegemoni disiplin atletik yang selalu diunggulkan negara sekutu Soviet dalam bidang olah raga. Cara sekelompok remaja ini dalam membangun jaringan dan juga mengakali distribusi perangkat papan luncur yang diidentikan dengan kebebasan ala negara kapitalis, akhirnya turut membawa mereka menjadi bagian dari gerakan perubahan politik.

Dokumenter karya Marten Persiel ini menjadi kontroversi di berbagai festival karena dianggap menipu lewat penggunaan rekaman-rekaman amatir yang otentisitasnya sulit dipercaya. Dirinya sadar bahwa format media rekam mampu mewakili karakter audio visual suatu masa. Terlebih untuk format amatir seperti Super 8, VHS, atau Betamax. Walaupun kebenarannya diragukan, film ini berhasil memberi kekuatan baru pada footage- footage “ilustrasi“ yang seringnya menjadi sekedar bumbu pada film dokumenter.

Pembuat film, penulis, dan sutradara iklan Marten Persiel adalah seorang pengembara yang eksentrik. Setelah perjalanan panjang selama 12 tahun melalui Inggris, Spanyol, Brazil, dan Filipina, ia kembali ke tempat kelahirannya di Berlin pada 2008, membawa pulang empat dokumenter, penghargaan pemenang iklan yang tak terhitung dan jaringan kerja antar pembuat film dan produser di seluruh dunia yang sempurna. Ciri khas Persiel adalah kedekatan ikatannya dengan sifat protagonis dan estetikanya sendiri. Ia selalu mencari format narasi yang tak biasa, yang tidak terlalu ketat untuk menyampaikan kisah-kisahnya. This Ain’t California, sebuah proyek yang amat disayanginya, akan menandai puncak pencariannya sejauh ini.

Eastern block countries have always being related with the obedience of its citizens to the state. However, This Ain’t California successfully and chronologically documented the story of rebellion by a group of young people in the east of Berlin Wall through skateboarding. The pleasure of playing skateboard emerged as rejection to the hegemony of athletic discipline, which always be seeded by Soviet allies in the sports field. The way this group built the distribution and outsmart the distribution of skateboard was likened like a freedom concept in the capitalist state, and this leads them to be part of political movement.

Documentary movie by Marten Persiel becomes controversial in several festivals because it was regarded as cheating, using amateur recording that its authenticity is questionable. He is aware that media-format-recording is capable of representing the audio-visual character of a period of time. Especially, when he used amateur format such as Super 8, VHS, or Betamax. Though apocryphal, this movie is able to give new strength to the “illustration” footage, which sometimes only becomes the sweetener of this documentary movie.

Filmmaker, author and commercial director Marten Persiel is a nomad and somewhat of an oddball. After a 12 year long odyssey through England, Spain, Brazil and the Philippines, he returned to his birthplace Berlin in 2008, bringing home four documentaries, countless award-winning commercials and an excellent network of filmmakers and producers all around the world. Persiel’s trademarks are his close bonds with his protagonists and his very own, off-key aesthetics. He always searches for unusual, less restrictive narrative formats to tell his stories. This Ain’t California, a project particularly dear to Persiel, will mark a climax in this quest thus far.

Faiza Ahmad Khan

India
Supermen of Malegaon
52′ (2008)

Screening hour: 19.00

India memiliki sejarah panjang dalam industri dan kultur sinema. Bahkan keterbatasan ekonomi tak menghalangi semangat lahirnya industri serupa dalam skala yang paling kecil sekalipun. Supermen of Malegaon membuktikannya dengan kisah seorang sutradara amatir di kota kecil, Malegaon, India, yang terobsesi membuat film Superman versinya sendiri. Dengan bermodal handycam dan perangkat seadanya, tanpa dukungan aktor profesional dan mengantongi hak cipta, dirinya berhasil menciptakan film yang mampu menjangkau pasar penonton lokal. Penonton yang mendambakan film laga ala blockbuster Holywood, yang sangat jarang terdistribusi ke bioskop di kampung mereka. Dokumenter karya Faiza Achmad Khan ini berhasil menunjukkan kekuatan kolektif, mulai dari produksi hingga pemasaran, yang selama ini menjadi dominasi industri sinema besar.

Faiza Ahmad Khan adalah seorang produser dan sutradara asal India. Ia telah membuat dua film, yakni ‘The Great Indian Marriage Bazaar’ dan ‘Supermen of Malegaon’ dan telah memenangkan beberapa penghargaan internasional, seperti Asian First Film Festival, Vesoul Asian Film Festival, dan Yerevan International Film Festival.

India has a long history in the cinema industry and culture. Even economical limitations do not preclude its spirit of the birth of this kind of industry in the smallest scale. Supermen of Malegaon proves it with the story of an amateur director in the small town, Malegaon, India, who obsessed to make Superman movies in her own version. She managed to create a film to reach local audience market only with a budget handy-cam and improvised devices, and without support by professional actor and without copyright. Her market is people who crave an action movie like a Hollywood blockbuster that very rarely distributed to his hometown. This documentary by Faiza Achmad successfully demonstrates the power of collectivism, ranging from production to marketing that being domination of the big cinema industry.

Faiza Ahmad Khan is a producer and director from India. She has made two films, ‘The Great Indian Marriage Bazaar’ and ‘Supermen of Malegaon’ and has been awarded several international awards, such as Asian First Film Festival, Vesoul Asian Film Festival, and Yerevan International Film Festival.

Goethe Institut

Jl. Dr Sam Ratulangi No. 9 – 15, Menteng
Jakarta Pusat