Jurnalisme Warga Dalam Mewartakan Realitas di Papua

Jurnalisme Warga Dalam Mewartakan Realitas di Papua

Jurnalisme Warga Dalam Mewartakan Realitas di Papua
Available only in Bahasa Indonesia

 

“Tulisan ini termasuk dalam rangkaian program ‘Suara Rakyat’. Ikuti pula Diskusi “Media Online di Indonesia: Yang Nyata di Dunia Maya” yang akan dilaksanakan pada hari Rabu, 17 Juni 2015, pukul 15.30 – 17.30 di Ruang Seminar, Galeri Nasional Indonesia”.

 

Saya pernah membaca teks dialog perseteruan seorang sutradara kenamaan Perancis, Jean Rouch dengan sutradara dari Senegal, Ousmane Sembene. Ketika itu Rouch bertanya tentang mengapa Ousmane tidak menyukai film-film etnografisnya, yakni sebuah film yang memperlihatkan, misalnya kehidupan tradisional. Ousmane menjawab:

Karena kamu hanya melihat dan menyatakan bahwa itu sebuah kenyataan ‘tanpa melihat’ perubahannya (evolusi). Apa yang saya dan juga aktivis-aktivis Afrika tidak suka dari filmmu adalah bahwa filmmu telah memperlihatkan kami ini seolah-olah serangga.”(1)

Kilas kisah Rouch dan Ousmane hampir sama dengan praktik beberapa penyaji media dalam menghadirkan wacana di Papua saat ini. Hanya saja medium yang digunakan berbeda, bukan hanya terbatas pada satu medium, tetapi mulai merambah pada medium yang lain termasuk media sosial. Saat ini, jurnalisme warga mulai marak digalakkan di Papua. Hal ini tentunya tidak terlepas dari partisipasi masyarakat yang pada praktiknya menampilkan berita aktual di lapangan. Tidak salah fungsi, tapi manfaatnya belum secara merata dirasakan. Perlu diketahui bahwa dalam melihat kehidupan di Papua, tidak harus berpatok di ranah empirisme saja, tetapi juga harus dikritisi secara teoritis sehingga dapat memberikan referensi bagi masa depan. Oleh karena itu kita perlu awas terhadap jurnalisme warga yang bisa saja mengarah pada pseudo jurnalisme warga.

Mungkin terlebih dahulu kita perlu meluruskan makna jurnalisme warga. Dalam Wikipedia, jurnalisme warga atau citizen journalism diartikan sebagai kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan pengumpulan, palaporan, analisis, serta penyampaian informasi dan berita(2). Dengan demikian, informasi atau berita adalah mutlak dari, oleh, dan untuk masyarakat. Ini bukanlah hal baru bagi masyarakat Papua, karena menyampaikan opini lewat surat kabar, menelpon radio untuk menyampaikan informasi aktual, dan menuliskan status pada facebook pun termasuk jurnalisme warga. Khusus untuk Facebook, beberapa komunitas jurnalis warga di Papua pun mulai membuat group sebagai tempat mempublikasikan beritanya. Tetapi ada hal penting yang sering luput dari jurnalis warga: partisipasi aktif dan analisis.

Memang tidak semua jurnalis warga lalai akan hal ini, tetapi ada beberapa individu yang mengabaikan hal ini karena alasan tertentu. Contoh kasus yang dapat kita telaah adalah, ketika sebuah kelompok menawarkan honor untuk sebuah berita dari jurnalis warga dan akhirnya jurnalis warga pun mau menerbitkan beritanya; atau karena desakan orang lain dan bahkan karena permintaan industri per-telivisi-an di pusat. Inilah yang membuat informasi yang disajikan tidak lagi mencerminkan definisi jurnalisme warga. Padahal hal ini merupakan partisipasi aktif masyarakat yang tidak didasarkan oleh kebutuhan pihak lain dan mutlak untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Beberapa bulan lalu, beberapa jurnalis warga di Papua diajak untuk turut berkontribusi mengirimkan karya video pada sebuah website industri TV di Jakarta. Pihak industri menjajikan bahwa video yang dikirimkan, akan dipublikasikan dalam segmen jurnalisme warga. Jelas ini sebuah kekeliruan dalam konsep jurnalisme warga. Dalam pemberitaan, perusahaan media massa memilih berita apa yang harus dipublikasikan. Pemilihan berita bukan hanya berdasarkan kebutuhan konsumen atau penerima berita tetapi juga kepentingan politik perusahaan. Umumnya perusahaan media harus memilih dan menentukan berita yang dapat menguntungkan perusahaannya dan dapat diterima oleh masyarakat konsumen. Pemberitaan tidak selamanya menyampaikan realitas yang sesungguhnya tetapi dipublikasikan dengan banyak pertimbangan demi kepentingan pengembangan perusahaan maupun penguasa yang terlibat untuk menjaga penilaian masyarakat terhadap ketidakberesan dalam mengurus masyarakat atau kasus-kasus tertentu yang terjadi di daerahnya. sehingga jurnalis warga pun menjadi korban dari perusahaan sebagai koresponden lapangan. Keadaan ini pun dapat didefinisikan sebagai pseudo jurnalisme warga, yakni strategi perusahaan media yang berlaku seakan-akan peduli pada berita jurnalisme warga.

Inilah contoh keteledoran kita terhadap analisis yang saya maksud tadi. Berita yang tadinya kita impikan dapat menjawab persoalan di kita (masyarakat) pun bergeser menjadi wacana yang menguntungkan pihak lain. Terlebih ketika wacana kita mengenai realitas yang berkembang di Papua yang kontennya menyampaikan sebuah keterpurukan sosial dan budaya – yang maksud kita tadinya adalah mengadakan sebuah gerakan advokasi terhadap pemerintah agar diadakannya perbaikan, akhirnya berubah fungsi menjadi sebuah wacana yang mampu menarik konsumen untuk membeli media yang berujung pada munculnya perspektif publik tentang keterbelakangan orang Papua dan tidak mampu untuk mengubah nasib bangsanya. Sehingga kita – yang mengaku jurnalis warga – layak mendapat kritikan seperti yang dilontarkan Ousmane pada Rouch, dengan mengganti kata ‘film’ menjadi ‘berita’ dan ‘Afrika’ menjadi ‘Papua’:

Apa yang saya dan juga aktivis-aktivis Papua tidak suka dari beritamu adalah bahwa beritamu telah memperlihatkan kami ini seolah-olah serangga.”

Seorang Pastor pernah berpesan kepada saya, bahwa segala bentuk tindak kekerasan yang terjadi di Papua harus segencar mungkin diberitakan lewat media, sehingga stigma atas Papua sebagai bangsa yang separatis dapat dihilangkan. Bisa dikatakan bahwa media massa adalah sarana perjuangan dalam memperjuangkan hak asasi Bangsa Papua. Namun perlu dipertegas bahwa masa depan Papua tidak hanya dapat diperkuat dengan gerakan pragmatisme dangkal dan sempit di media dan mudah dipatahkan oleh penguasa yang hegemonistik. Pelaksananaan Otonomi Khusus di Propinsi Papua dan Papua Barat tak memberikan kebebasan kepada pers untuk menjalankan pewartaan berita kepada masyarakat luas. Para jurnalis lokal maupun nasional seringkali mendapat tekanan mental dari para aparat pemerintah dan keamanan agar peristiwa yang berkaitan dengan tindak kekerasan yang terjadi di Papua (khususnya di pedalaman) tidak dikabarkan kepada masyarakat luas. Bahkan pemerintah mendirikan dan mengendalikan media cetak dan televisi misalnya Cenderawasih Pos, TVONE, dan lainnya yang seringkali menyampaikan informasi yang menguntungkan penguasa dan kapitalis, dengan memojokan orang Papua dari realitas sesungguhnya. Belum lagi tindakan sabotase Negara dengan cara pembatasan ruang gerak demokasi bagi para jurnalis asing untuk masuk ke daerah Papua dalam rangka memantau dan memberitakan setiap kejahatan sistematis yang dialami oleh warga asli Papua. Ya, meskipun saat ini Presiden Jokowi telah membuka akses bagi wartawan asing, tapi tetap saja masih ada oknum tertentu yang akan bekerja keras untuk membatasi agar kepentingannya tetap berjalan.

Budaya hegemonis Negara atas Papua memang terlaksana atas media cetak maupun televisi yang berpihak pada pemerintah. Sehingga, dengan berbagai wacana dan berita yang berpihak pada pemerintah dan Negara telah merusak eksistensi manusia dan identitas bangsa Papua. Untuk itulah peran jurnalisme warga sangat dibutuhkan dalam hal mengatasi krisis media saat ini. Jurnalis warga yang merupakan warga sendiri, dapat dengan mandiri memproduksi medianya dengan mengedepankan kearifan lokal setempat. Kaum akademis, mahasiswa, aktivis kemanusiaan, tokoh agama, intelektual adat, dan setiap orang yang peduli dengan masalah di Papua pun harus turut berpartisipasi aktif dalam mendorong gebrakan jurnalisme warga.

Kehadiran teknologi informasi dan perkembangan wacana media di masyarakat harus disikapi dengan arif oleh jurnalis warga. Memanfaatkan media online yang praktis (facebook, youtube, instagram dll.) dengan analisis kritis terhadap konten wacana berlandaskan inisiatif dari warga itulah maksudnya. Dengan demikian, kisah perseteruan Rouch dan Ousmane hanya akan menjadi referensi kita tanpa harus kita yang mengalaminya. Terlebih bagi kita yang merindukan terjadinya transformasi atas bangsa kita. Karena transformasi sebuah bangsa dimulai dari transformasi perorangan! Jika seseorang mengalami transformasi, maka masyarakat akan mengalami transformasi dan jika masyarakat mengalami transformasi maka puncaknya akan terjadi transformasi bangsa.

   [ + ]

1. http://www.csus,edu/indiv/o/obriene/art116/Readings/final1%20Rouch%20Sembene%20on%20African%20film.doc, terakhir diakses tanggal 12 November 2014. A History Confrontation between Jean Rouch and Ousmane Sembene ini1965: “You Look at Us as if We Were Insects”, the short century: Independence and Liberation Movements in Africa 1945-1994, editor Okwui Enwezor, hal. 440, Munich, London, New York: Prestel, 2001. Ditranskrip oleh Albert Cervoni dan diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Muna El Fituri.
2. http://id.wikipedia.org/wiki/Jurnalisme_warga
Yonri Revolt
Born in Makassar, January 25, 1992. He is currently studying at the University of Timika, Papua, majored in Communication Studies. He is active in Yoikatra, an egalitarian nonprofit organization that strives to develop media literacy and citizen journalism. He is the chairman of the community, and also a filmmaker.