(Memikirkan Kembali) Yang Nyata di Dunia Maya

(Memikirkan Kembali) Yang Nyata di Dunia Maya

(Memikirkan Kembali) Yang Nyata di Dunia Maya
Available only in Bahasa Indonesia

 

Praktik jurnalisme online beserta industrinya semakin ramai di Indonesia. Informasi yang serba cepat dan disebarkan di media online mampu membangun kesadaran publik hingga kontroversi yang menimbulkan rasa cemas. Maka tidak mengherankan kalau OK. Video tahun ini menjadikan jurnalisme dan media online sebagai tema di salah satu sesi diskusinya, yang temanya terdengar seksi di telinga saya: Yang Nyata di Dunia Maya.

Berbekal modul susunan Asep Saefullah—salah satu pembicara yang juga Ketua Bidang Internet Aliansi Jurnalis Independen (AJI)—saya masuk ke ruang diskusi yang masih lowong. Diskusi terlambat mulai demi menunggu kursi yang sekitar duapuluh itu terisi. Tampaknya pengunjung lain lebih tertarik menikmati karya seni di galeri, dibanding membahas jurnalisme online yang dikenal penuh sensasi.

Diskusi digiring oleh seorang jurnalis yang juga ‘selebriti,’ Pangeran Siahaan yang memberi kesempatan bicara pertama pada Asep dengan memaparkan asal-usul penggunaan internet di negeri ini. Katanya, internet pertama kali masuk ke Indonesia pada 1983 berkat Joseph Lukuhay, doktor dari University of Illinois, dan digunakan oleh kalangan akademisi. Jaringan yang Joseph buat bernama UINet, terletak di Universitas Indonesia. UINet kemudian dikembangkan menjadi University Network (Uninet) dan melibatkan lebih banyak universitas di Indonesia. Selain digunakan oleh akademisi, internet juga digiatkan oleh radio hobbyist hingga kemudian memasuki ranah komersial dengan Penyedia Jasa Layanan Internet (Internet Service Provider) pertama bernama Indonet.

Dengan hadirnya Indonet, para pebisnis media kala itu mulai melihat internet sebagai saluran distribusi. Republika jadi yang pertama hadir di internet, meski pemanfaatannya masih sekadar memindahkan konten media cetak ke internet. Kehadirannya pada 17 Agustus 1995 diikuti oleh Kompas Online, Tempo Interaktif (kini tempo.co), Bisnis Indonesia, dan Harian Waspada (media lokal di Medan). Media-media ini dinamakan Asep sebagai Generasi Pertama. Juli 1998, Detik ikut masuk ke dunia maya dan mematahkan tradisi sekadar-memindah serta menjadi kiblat bagi kelahiran “jurnalisme baru” di Indonesia. Dengan berjalannya reformasi, banyak media online tumbuh pada 2000.

Setelah jauh mendengar pemaparan Asep, saya menyadari bahwa diskusi ini fokus membicarakan praktik jurnalisme online dan pemanfaatan internet pada hari ini, karena tidak membahas bagaimana jurnalisme online melawan rezim Soeharto. Padahal, saya sudah terlanjur berekspektasi karena Orde Baru jadi tema OK. Video tahun ini. Asep hanya menekankan bahwa internet adalah satu-satunya ruang publik yang bebas dari jangkauan pemerintah saat itu. Ia memaparkannya secara singkat dan hanya mengaitkan elemen masyarakat.

Asep menambahkan, diskusi pada masa Orde Baru berlangsung dalam milis-milis, salah satu yang paling terkenal adalah “Apakabar,” yang dibuat mantan staf Kedutaan Besar Amerika di Jakarta John A. MacDougall pada Oktober 1990. Internet juga jadi ruang yang dinamis untuk penyebaran pesan-pesan perlawanan seperti “gantung Soeharto” dan “hancurkan Soeharto.” Sepanjang masa reformasi, informasi tentang pergerakan mahasiswa tiap detiknya bisa didapat dalam milis pro-reformasi.

Asep selanjutnya membahas tumbuh pesatnya internet yang kemudian memunculkan implikasi seperti berkembangnya demokrasi dan meluasnya ruang publik. Kemungkinan konvergensi memang menggembirakan bagi publik dengan layanan yang mudah, cepat, dan murah. Meski begitu, industri juga merasakan persoalan transformasi media yang salah satunya berdampak pada penurunan oplah media cetak. Di sisi lain, kualitas konten jurnalisme online juga tak sepenuhnya dapat diandalkan. Dalam kondisi ini, publik memainkan peran penting di dunia maya dengan memanfaatkan ruang untuk memberi komentar, bahkan memproduksi beritanya sendiri. Meluasnya ruang publik ini menimbulkan ‘peperangan’ gagasan di intenet, seperti fenomena Twit War. Asep menggambarkannya dengan “Ruang publik yang sangat terbuka kini jadi ruang berantem yang sangat terbuka juga,” ujarnya sambil tertawa.

Kehadiran media sosial di internet juga harus diperhatikan dalam perkembangan jurnalisme online hari ini. Pangeran mengingatkan fenomena pengutipan opini di media sosial sebagai sumber bagi berita online, khususnya dari Twitter. Di sini saya melihat terjadinya pergeseran “standar” pengukuran kredibilitas seorang informan yang berasal dari media sosial: mereka tidak lagi dinilai dari siapa dan apa yang ia kerjakan di dunia nyata, tapi dari magnitude yang dihasilkan suaranya di dunia maya ke pengguna media sosial lainnya.

Hal yang perlu dikhawatirkan adalah imbas dari praktik jurnalisme yang sembrono, seperti pemakaian judul yang sensasional dan tidak relevan, kemalasan dalam mengejar akurasi dan verifikasi, hingga posisi media yang partisan. Efeknya, publik jadi terpengaruh dan mempertanyakan kebenaran, sebagian menelan mentah-mentah, lalu menyebarkannya lagi ke orang lain, hingga membentuk suatu kompleksitas informasi. Bola salju informasi terus bergulir hingga mengundang netizen dan media lainnya, seperti TV dan cetak, untuk ikut menyoroti. Kalau dihubungkan dengan rumusan Asep, ini menunjukkan siklus produksi berita masa kini: dari media sosial ke online, kemudian ke TV, cetak, dan kembali ke media sosial lagi. Sebagian bahkan tak mengikuti berita di TV dan cetak karena sudah mendapatkannya lewat internet. Kita bisa melihat pentingnya peran jurnalisme online dan pemanfaatan media sosial sebagai titik penting perputaran informasi hari ini.

Sementara itu, pembicara dari Dewan Pers, Nezar Patria melihat Twitter sebagai alat tempur, khususnya saat Pemilihan Presiden. Di sana banyak terjadi perang untuk memenangkan calon tertentu. Namun, tidak terjadi diskusi yang membangun antarkubu. “Dikhawatirkan, bukan dialog yang terjadi di sana, tetapi multimonolog,” katanya.

Ketika publik internet (netizen) yang menurut statistik 49%-nya adalah digital native yang jumlahnya terus bertambah semakin menggantungkan diri kepada internet dan media sosial untuk mendapatkan informasi utama, ada implikasi baik yang muncul. Kesadaran tentang demokrasi akan terus bertumbuh, siapa pun bisa menerima dan memproduksi informasi dengan mudah. Namun, kondisi ini bisa kita kaitkan dengan terjadinya disfungsi dalam komunikasi massa. Dengan banyaknya informasi yang dinamakan Nezar sebagai “multimonolog,” publik akan merasakan “war nerves” karena stres dan cemas akibat banjirnya informasi atau “monolog.” Netizen bisa jadi mudah goyah dengan banyaknya informasi dan rentan manipulasi karena aktivitas offline mereka tergantikan dengan fokus ke dunia maya.

Di sini, jurnalisme online yang juga merupakan bagian dari komunikasi massa seharusnya bisa menjalankan fungsi yang dinamakan C. Wright sebagai korelasi. Jurnalisme online harus cerdik memanfaatkan internet dan media sosial sebagai saluran untuk mereduksi banjir informasi dengan menjelaskan duduk perkara peristiwa dan menjembatani publik kepada informasi yang penting dan tidak penting. Ini biasa dilakukan dengan menerbitkan editorial atau tajuk rencana, bahkan dengan membuat agenda setting. Tak heran jika media berita online kini tengah mengembangkan Social Media Strategy, meski kebanyakan hanya berorientasi pada profit.

Sayangnya, tidak semua netizen cukup melek untuk meresepsi, mengelola, dan menggunakan internet beserta media sosial. Tidak semua mampu membedakan sumber berita kredibel dan tidak kredibel—mana fakta, opini, atau bahkan propaganda. Hal ini luput dari Asep dan Nezar, bahwa masyarakat perlu dibuat melek media. Saya membayangkan, bisa-bisa fungsi korelasi ke depannya bukan dilakukan oleh media berita lagi (karena tidak berfungsi), melainkan oleh para opinion leader seperti buzzer, selebtwit, dan blogger (karena mereka lebih seksi untuk didengar) yang keberpihakannya perlu dipertanyakan.

Sebetulnya, Asep dan Nezar juga memaparkan polemik di tataran implementasi regulasi hingga ruwetnya kasus pengaduan dan pelanggaran etika. Mereka juga mempersoalkan dampak jurnalisme online yang Jakarta-sentris, pertarungan iklan internet yang bersifat global, hingga praktik agregasi konten yang curang. Informasi ini bisa dibaca pada publikasi yang diterbitkan AJI dan Dewan Pers.

“Yang nyata di dunia maya” perlu diredefinisi dan dikelola dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai yang memenangkan benak publik adalah mereka yang manipulatif. Jurnalisme online harus ingat untuk menghela napas dan berhati-hati dalam mengambil langkah. Tentu dengan menyadari bahwa hiruk pikuk ini tak bisa diredam.

Dinda Larasati

Dinda Larasati tengah menempuh pendidikan sarjana di jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI, peminatan Kajian Media. Kajiannya cenderung berkisar pada tema industri budaya, komunikasi politik, gerakan sosial, dan pemanfaatan media baru. Dinda juga merupakan Pemimpin Umum Pers Suara Mahasiswa UI dan Pendiri Taman Baca Bulian. Beberapa puisi dan prosanya telah dipublikasikan melalui jurnal sastra terbitan The Murmur House, Majalah Cobra, dan zine lokal. Selain menulis, Dinda juga membuat karya seni, salah satunya muncul di pameran kolektif Buka Warung di RURU Gallery (2015).