Mengobrak-abrik Buaya

Mengobrak-abrik Buaya

Mengobrak-abrik Buaya
Available only in Bahasa Indonesia

 

Seorang aktivis asal Inggris – kalau tidak salah – yang telah lama tinggal di Indonesia dan meriset seluk beluk peristiwa 30 September 1965 di luar narasi resmi Orde Baru mampir bersama tim pembuat film ke Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya. Di sana ia bertemu seorang guru SD, yang menenteng segelintir muridnya keliling monumen. Mengamati diorama-diorama di ruangan pengap, berfoto di bawah patung ketujuh figur tentara tragik yang berpose gagah.

Saya lupa adegan ini muncul di film mana. Yang jelas, film dokumenter. Temanya masih segaris dengan isu-isu hak asasi manusia, pengungkapan kebenaran, pelanggaran HAM masa lalu, dan lainnya.

“Kamu tahu, ini semua sejarah bohong!” tukas aktivis itu dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata.

Guru itu hanya merengut. Separuh tidak paham ucapan aktivis itu, separuh tidak percaya. Ia bergestur menunjuk-nunjuk patung Pancasila Sakti, seolah-olah beranggapan bahwa ibu-ibu bule ini kebingungan atau kena dementia, pikun, atau semacamnya.

“Iya, ini!” ulang aktivis itu. “Kamu tahu, ini bohong.”

Adegan tersebut digantung. Saya tidak melihat konklusi dari pertemuan yang singkat namun menarik tersebut. Dulu, tempat tinggal saya hanya sekitar 15 menit dari Lubang Buaya. Saya yang masih SD hanya bisa planga-plongo melihat diorama yang tak banyak menjelaskan latar kejadian, menatap relief yang dramatis, serta membaca buku panduan resmi yang—ironisnya—bersampul merah darah. Bahkan sampai sekarang, monumen ini berdiri sebagai pengingat dari selorohan JJ Rizal bahwa: “Sejarawan adalah orang yang bisa mengutak-atik fakta, dan menipu dunia selama ratusan tahun ke depan.” Bisa jadi ini alasan mereka dirangkul begitu erat oleh kepentingan-kepentingan politik.

Menggali Buaya, karya Hafiz Rancajale di Orde Baru OK. Video, merunut kembali sejarah ambigu Indonesia yang terangkum dengan baik di Monumen Pancasila Sakti. Rekaman close-up dari relief di monumen tersebut tampil di antara potongan adegan seseorang mencangkul, menggali dan mengangkut tanah dengan tekun. Kedua adegan ini diiringi narasi dari berbagai suara yang mengenang kembali masa-masa mencekam tersebut, saat siapapun yang dianggap lawan politik Orde Baru dituduh Komunis dan ditumpas habis-habisan. Nada ucapan mereka yang terkesan datar, dan suara mereka muncul bergantian—kadang lirih, kadang kencang.

Karya ini adalah upaya Hafiz mempertanyakan kembali makna yang tersisa dari monumen sejarah macam Monumen Pancasila Sakti, ketika rezim yang melegitimasi narasi sejarahnya sudah digulingkan. Yang membuat miris dari Monumen Pancasila Sakti—dan terekam dengan baik dalam interaksi di nukilan film aktivis Inggris di atas—adalah bahwa dalam kasus ini, Orde Baru bisa dibilang berhasil. Kita masih percaya bahwa Komunis itu haram jadah tanpa kecuali. Kita masih bisa ‘memaafkan’ tindakan para jagal era ’65 yang ditelanjangi di kedua film karya Joshua Oppenheimer karena mereka “bertindak sesuai konteks zamannya” atau malah “membela kepentingan negara.” Sejarah yang rumit tersebut direduksi menjadi diorama-diorama yang belibet, penempatan slogan-slogan yang melodramatis, dan pemposisian sejarah yang membuat geleng-geleng kepala.

Kekakuan kita dalam menanggapi narasi-narasi sejarah baru ini seperti menemukan pengejawantahannya dalam relief-relief bisu yang disorot oleh Hafiz. Jika semua yang terekam tak pernah mati, maka nampaknya semua yang terpahat takkan pernah binasa. Namun, entah disengaja atau tidak, karya ini menyajikan alternatif yang jenaka. Di antara sorotan close-up dan adegan menggali lubang tersebut, saya menyadari bahwa makna dari relief tersebut telah bergeser. Implikasi dan kisah sejarah yang tadinya terang benderang tersebut berubah ambigu. Saya tidak tahu lagi, wajah panik siapa yang tertuang dalam pahatan tersebut. Saya tidak paham lagi, sosok tentara yang memukuli orang tak bersenjata itu ada di pihak mana. Sorotan ekstra close-up yang digunakan Hafiz membuat konteks dari adegan yang digambarkan tersebut jadi lebih terbuka untuk interpretasi alternatif, setidaknya bagi saya.

Maka yang tersisa adalah kekacauan. Dan bukannya itu lebih mendekati fakta sejarah yang ada? Karena sejarah bukan film dramatis di mana sang pahlawan menang dan kekuatan penjahat akhirnya ditumpas. Dalam peperangan dan politik, semua orang akan kehilangan sesuatu.

Raka Ibrahim

Lahir di Surabaya. Tulisannya pernah dimuat di beberapa media independen seperti Gigsplay, Jakartabeat, Indoprogress, dan Jurnallica. Pada 2013, ia mendirikan webzine independen Disorder Zine bersama kawan-kawannya. Entah kenapa terpilih sebagai salah satu peserta Lokakarya Kritik Seni Rupa yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta dan ruangrupa pada 2014. Saat ini aktif di Pamflet, Koalisi Seni Indonesia, dan RutgersWPF.