Menyadur Tulisan Opini Tidak Menjadikannya Tulisan Berita

Menyadur Tulisan Opini Tidak Menjadikannya Tulisan Berita

Menyadur Tulisan Opini Tidak Menjadikannya Tulisan Berita
Available only in Bahasa Indonesia

 

“Tulisan ini termasuk dalam rangkaian program ‘Suara Rakyat’. Ikuti pula Diskusi “Media Online di Indonesia: Yang Nyata di Dunia Maya” yang akan dilaksanakan pada hari Rabu, 17 Juni 2015, pukul 15.30 – 17.30 di Ruang Seminar, Galeri Nasional Indonesia”.

 

Penyaduran berita bukanlah sesuatu yang asing, apalagi haram dalam praktek jurnalisme. Hal ini semakin umum di era internet di mana sumber-sumber berita semakin mudah diakses yang membuat sebuah institusi media bisa menyadur sebuah artikel dari media lain, terlebih media asing, dengan mencantumkan sumber berita. Hal seperti ini kerap dijumpai dalam artikel-artikel yang menyangkut gaya hidup atau seks, di mana menyadur sebuah artikel dari media asing yang memuat laporan studi ilmiah mengenai topik-topik di atas adalah sebuah praktek yang lazim. Relevansi dan kelayakan dari artikel-artikel seperti persepsi pria terhadap wanita yang berpakaian minim ataupun 5 cara untuk berciuman yang panas bisa dipertanyakan, namun implikasi yang ditimbulkan dari pemuatan berita seperti itu bisa kita katakan berada di level yang tidak mencemaskan publik.

Namun tak jarang ada beberapa artikel saduran, terlebih pada topik politik atau ekonomi, yang potensial memancing keresahan publik dan tak ada artikel yang lebih mengernyitkan dahi dalam beberapa waktu terakhir dibanding tulisan berjudul “Siapa Soros Versi Indonesia Yang Gempur (http://www.beritasatu.com/ekonomi/282256-siapa-soros-versi-indonesia-yang-gempur-rupiah.html) Rupiah?” yang dipublikasikan di Berita Satu.

Hal yang paling mencolok untuk dicermati dari tulisan ini adalah sumber berita. Kredit terhadap artikel tersebut hanya dinyatakan dengan inisial HA sebagai penulis artikel tersebut. Namun, di bagian bawah artikel terpampang jelas bahwa tulisan tersebut disadur dari tulisan Christianto Wibisono, ketua Pusat Data Bisnis Indonesia. Christianto Wibisono tentu punya kredibilitas sebagai analis ekonomi yang membuatnya valid sebagai sebuah sumber berita, tapi mengutip pernyataan narasumber yang kemudian diolah menjadi berita adalah hal yang berbeda dengan menyadur tulisan narasumber lalu menjadikannya berita.

Judul tulisan asli dari sumber tersadur tak dicantumkan sehingga pembaca tak tahu tulisan mana yang disadur oleh penulis berita tersebut. Artikel tersebut pun tak mencantumkan tautan dari tulisan asli sumber tersadur sehingga pembaca tak bisa melakukan verifikasi untuk membandingkan tulisan saduran dengan tulisan tersadur. Pembaca sama sekali tak punya gambaran bagian mana saja yang disadur dalam artikel tersebut, apakah hanya sebagian atau semuanya.

Jika artikel di Berita Satu tersebut disadur secara menyeluruh, atau dengan kata lain, penulis artikel tersebut hanya melakukan copy-paste dari tulisan Christianto Wibisono, lalu mencantumkan sumber sebagai validasi, hal ini menimbulkan masalah lain karena artikel tersebut ditempatkan di dalam rubrik berita ekonomi, bukan kolom opini atau blog. Narasumber berita tersadur bukanlah seorang jurnalis dan, meskipun bukan sesuatu yang mustahil bagi seseorang yang non-jurnalis untuk menghasilkan karya jurnalistik, apa yang ditulisnya tidak memenuhi kaidah sebagai berita.

Problem selanjutnya adalah mengenai kepada siapa atribut kepenulisan artikel ini harus disematkan. Tulisan tersebut memang mengklaim bahwa artikel disadur dari tulisan Christianto Wibisono, tapi berhubung Christianto Wibisono hanya mendapat kredit sebagai penulis tersadur dan artikel dimuat dalam rubrik berita (lain soal jika tulisan tersebut dimuat dalam kolom opini dengan Christianto Wibisono sebagai penulisnya), maka kita harus menganggap bahwa penulis artikel berita tersebut adalah HA, dan bukan Christianto Wibisono.

Banyak bagian dari artikel ini yang membuatnya tidak bisa dianggap sebuah tulisan berita adalah “Sementara itu para pakar bagian dari pasukan cyber war meramal rupiah bisa jatuh ke 14.200 atau bahkan orang awam memelesetkan jatuh ke 15.000”. Penulis tidak menjelaskan siapa saja pakar bagian dari pasukan cyber war yang dimaksud sebelum memasukkan pendapat “orang awan”.

Tulisan ini memuat narasi mengenai “penguasaha” yang menurut penulis akarnya bisa ditelusuri hingga ke era berakhirnya Dwifungsi ABRI. Menurut penulis, “Orde Reformasi dikelola oleh penguasa merangkap pengusaha, menjadi “penguasaha” yang tidak jelas kapan mereka berfungsi menjadi penguasa penyelenggara negara atau pengusaha pemilik korporasi yang menikmati fasilitas kebijakan negara yang dibuat oleh penguasa yang itu-itu juga”. Hal ini mungkin saja benar, tapi karena penulis tidak mencantumkan data dan fakta pendukung, maka narasi tersebut menjadi opini semata.

Nilai utama dari tulisan ini adalah menyoroti kemungkinan adanya seorang spekulan yang menghancurkan nilai tukar Rupiah dengan meniru langkah yang digunakan oleh George Soros ketika mengobok-obok nilai tukar Poundsterling tahun 1991. Lebih lanjut, penulis menjabarkan bagaimana perekonomian Indonesia di era Orde Baru, termasuk mengenai kebijakan bea cukai dan kebijakan mobil nasional, dan juga menyoroti bagaimana BUMN di masa itu menyervis dan memfasilitasi putra-putri kerabat kroni pejabat BUMN. Penulis menggunakan istilah “Indonesia Inc.” untuk mendeskripsikan carut marut perekonomian Indonesia di era itu. Namun tanpa alur dan tutur logika yang runut, tiba-tiba penulis mengambil kesimpulan bahwa Soros versi Indonesia ini berasal dari kalangan “penguasaha”.

Yang lebih fatal lagi adalah di paragraf terakhir, penulis melompat ke konklusi bahwa “penguasaha” ini ingin menjatuhkan pemerintahan Jokowi secara politik sebelum mengajak pembaca untuk menunggu hingga “…..kabinet baru, panglima baru, KaBIN baru, KPK baru”. Penulis lalu menutup artikel berita ini dengan menakut-nakuti bahwa Rupiah bisa ambruk ke nilai Rp. 15.000 per dollar AS.

Bisa saja poin-poin yang berada dalam tulisan tersebut kemudian hari terbukti benar, tapi sesuai dengan kaidah jurnalistik, sebuah berita harus mutlak benar untuk bisa dianggap benar. Sesuatu yang mungkin saja benar tidak bisa dianggap berita.

Christianto Wibisono sah-sah saja untuk menuangkan buah pikirannya dalam tulisan tersebut, termasuk berbagai asumsi yang menyertainya. Seperti lazimnya kolom opini, subjektivitas merupakan sebuah kewajaran. Tidak akan ada masalah jika tulisan ini dimuat di dalam rubrik opini. Tapi berhubung tulisan ini berada di dalam rubrik berita, menyadur mentah-mentah sebuah tulisan opini dan mempublikasikannya sebagai berita adalah sebuah kesalahan fatal.

Menyadur sebuah tulisan opini dan mencantumkan penulis tersadur sebagai sumber tidak serta merta menjadikannya berita.

 

Artikel ini telah dipublikasikan sebelumnya di http://pangerant.com/.

Pangeran Siahaan
A writer and TV presenter. He currently presents football program on beIN SPORTS Indonesia and runs a column in Detik.com. He was a local correspondent for Press Association and previous works including hosting and commentating sports program on TVRI, Trans TV, and NET. Besides his passion towards sports, he also put massive interest on politics. In 2010, he co-created Provocative Proactive, a political satire program that was aired on Metro TV. He’s also the founding member of Ayo Vote, an independent movement to encourage youth participation in the election.