Menyantap Propaganda di Atas Meja

Menyantap Propaganda di Atas Meja

Menyantap Propaganda di Atas Meja
Available only in Bahasa Indonesia

 

Sebuah radio analog diletakkan di atas meja. Terdengar suara pembawa berita dari berbagai frekuensi yang terhubung. Layar memunculkan secara serempak sejumlah helikopter perang mini, terbang mengambang di atas meja yang sama. Radio yang ada sebelumnya digantikan piring kosong, mug, dan koran International yang tengah dibaca seseorang yang hanya terlihat lengannya. Muka helikopter loreng-loreng itu terbang mengambang ke arah koran yang terbentang. Muncul kata Demontable berwarna merah di layar. Di shot selanjutnya, semua keramaian tadi hilang, berganti dengan figur tentara mainan di tengah meja. Sebelah lengan manusia datang menghampiri dan menjatuhkan tentara mini itu dengan jari telunjuk. Layar berubah jadi gelap.

Muncul sepiring brokoli dengan mashed potato di atas meja. Sesosok tubuh berbaju hitam menyendok makanannya. Kamera tidak menampilkan bagian leher hingga kepala, karena fokusnya adalah apa yang terjadi pada piring itu. Di sisi meja yang lain, layar menunjukkan sosok lengan berbaju safari meletakkan monitor dan joystick, lalu menerbangkan sebuah pesawat tanpa awak (drone) ke arah piring yang tengah disantap. Monitor itu menampilkan gambar dari kamera pada pesawat yang terbang mengitari piring. Di saat yang sama, muncul sebuah truck dari tengah bukit-bukit kentang lunak dan berjalan di atasnya. Sebagian mashed potato terlempar seperti cipratan akibat putaran roda truk yang berjalan ke depan, sementara drone terbang berkeliling lebih jauh hingga ke sisi lain meja yang berisi tumpukan majalah dan surat kabar sambil menyenggol dahan dedaunan yang tumbuh hingga melebihi ketinggian meja.

Sebuah shot memperlihatkan mesin penjerang kopi yang belum lama dinyalakan, tetesan kopinya masih sedikit. Drone kembali jadi sorotan, kali ini mengeluarkan tembakan ke arah piring. Orang yang tengah melahap makanannya sama sekali tidak terganggu dan terus menyendok makanannya yang sebagian gosong tertembak dan hancur berserakan, seolah tak terjadi apa-apa. Adegan ini terlihat seperti kegiatan rutin di pagi hari, namun dengan kemunculan berbagai hal yang tidak wajar dan nampak direkayasa secara digital.

Katalog OK. Video menyebutkan bahwa Demontable memparodikan bagaimana ‘dapur’ manipulasi berita kekerasan seperti perang dan propaganda bekerja. Teknologi digital dipakai untuk manipulasi dalam kegiatan produksi dan distribusi. Adanya layar hijau (greenscreen) dan penggunaan mainan alat perang digunakan untuk menciptakan realitas palsu. Kepalsuan ini disalurkan lewat berbagai media dan mendunia, bahkan masuk ke ruang domestik sehari-hari. Video berdurasi 12 menit 3 detik ini hadir sebagai kritik terhadap media dan situasi politik dunia, sekaligus merangsang kesadaran kita untuk mempertanyakan kembali realitas yang disajikan oleh media.

Apa yang ditampilkan selanjutnya cukup menghibur. Dua lelaki berpakaian tentara yang direkayasa menjadi ukuran mini berdiri menghadap kipas yang menyala di atas meja. Mereka bermain ganda melawan angin dari putaran kipas. Tiap kali melakukan servis, shuttlecock akan kembali lagi, lalu dipukul lagi. Shuttlecock terlihat memantul tanpa terhempas angin sedari awal, yang mana ini tidak mungkin terjadi dalam realitas yang sebenarnya. Tentara yang satunya menopang senapan dan membidik shuttlecock yang terbang setiap kali. Ketika sudah berhasil ditembak hingga hancur, tentara yang melakukan servis akan mengeluarkan shuttlecock baru dari kantong celananya dan bermain lagi. Pada adegan-adegan selanjutnya, diperlihatkan seorang lelaki yang berakting main bulutangkis di depan greenscreen. Gerakannya sama, tapi kali ini layar memperlihatkan latar yang berbeda. Lelaki itu melakukan servis dan bermain di  arena perang bernuansa coklat kelabu, penuh pasir beterbangan dan angin kencang. Di sini diperlihatkan bagaimana manipulasi dapat menampilkan apa saja, dalam kondisi seaneh apapun, namun bisa terlihat hampir nyata.

Adegan rekayasa lain yang cukup menggelikan adalah ketika tokoh dalam video berganti-ganti jenis pakaian perang dan riasan wajah, lalu berlagak jatuh tertembak di depan greenscreen. Bunyi tembakannya dibuat dengan plastik bubble wrap dari bungkus mainan yang ditekan dengan jari hingga kempes. Rekaman itu disunting dengan latar meja yang menjadi set sedari awal, seolah ada banyak tentara mati tertembak. Sementara, kegiatan domestik seperti menjerang kopi dan mengolah daging mentah terus berlangsung di meja yang sama. Dengan sorotan kamera pada mesin penjerang kopi sebagai penunjuk waktu sepanjang video, kita diperlihatkan bahwa manipulasi seperti ini bisa diproduksi dan didistribusi dengan cepat dan dapat terjadi setiap hari.

Hal menarik yang bisa dijadikan sorotan adalah kecanggihan manipulasi yang dilakukan oleh satu orang saja. Mulai dari peran, pengolahan gambar, pembuatan dan penataan properti, dan penyuntingan akhir–semua dilakukan oleh Douwe Dijkstra, seniman video dari Belanda. Ini menyadarkan saya bahwa apa yang kita resepsi melalui media bisa dibentuk oleh satu pihak yang berkuasa. Penggunaan mainan berupa alat dan kendaraan perang yang dijadikan representasi juga memperlihatkan kekuatan visual pada media yang bisa membuat kita tertipu. Selain menampilkan manipulasi, video ini juga menunjukkan perpaduan antara media analog dan digital yang bisa saling menguatkan pembentukan pesan ke khalayak. Meski berfokus pada ‘permainan’ yang diciptakan pihak yang menguasai media, Demontable berhasil memperlihatkan kedekatan dan kebutuhan manusia dengan media massa pada saat terjadinya krisis dan propaganda.

Kalau diperhatikan, adegan-adegan di video ini seolah mengejek konsumen media yang terlihat tak menyadari keberlangsungan manipulasi di balik realitas yang disajikan media massa, khususnya dalam isu peperangan, kekerasan, dan propaganda. Sayang, saya tak dapat membaca kritik yang Douwe lakukan sebagai seniman hendak ditujukan kepada propaganda dan peristiwa sejarah apa secara spesifik. Demontable sesungguhnya menayangkan rekayasa yang itu-itu saja: ledakan, serangan, tembakan, dan tubuh-tubuh yang jatuh akibat serangan. Ini mengingatkan saya pada tulisan Perse, peneliti dampak media, tentang peliputan peristiwa krisis pada tingkatan pertama oleh televisi–setiap video yang dimiliki akan ditayangkan terus menerus, hingga tak ada hal baru yang dapat ditayangkan. Selanjutnya hanya ada pengulangan gambar. Seorang manajer televisi mengatakan dalam wawancara setelah The Kennedy Assasination, “every bit of wire news was aired, re-aired, broadcast again and again” (Perse, 2008: p. 70).

Menonton video ini dalam durasi penuh dapat membuat kita kewalahan untuk melihat lapisan realitas dan menyortir mana yang palsu dan asli. Apalagi, tidak semua orang dapat memiliki kemampuan untuk menyadarinya. Video ini pada akhirnya mendatangkan pertanyaan, sudah berapa banyak kepalsuan yang disajikan media massa dan mengerak di benak kita hingga hari ini.

Dinda Larasati
Dinda Larasati tengah menempuh pendidikan sarjana di jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI, peminatan Kajian Media. Kajiannya cenderung berkisar pada tema industri budaya, komunikasi politik, gerakan sosial, dan pemanfaatan media baru. Dinda juga merupakan Pemimpin Umum Pers Suara Mahasiswa UI dan Pendiri Taman Baca Bulian. Beberapa puisi dan prosanya telah dipublikasikan melalui jurnal sastra terbitan The Murmur House, Majalah Cobra, dan zine lokal. Selain menulis, Dinda juga membuat karya seni, salah satunya muncul di pameran kolektif Buka Warung di RURU Gallery (2015).