Menyintas dalam Senyap

Menyintas dalam Senyap

Menyintas dalam Senyap
Available only in Bahasa Indonesia

 

Menonton The Plastic Garden karya Ip Yuk-Yiu meninggalkan rasa yang sama ketika saya berada dalam lingkaran manusia berpayung hitam di Aksi Diam Kamisan. Tak ada pembantaian, aksi baku tembak, maupun penculikan yang menampar benak sepanjang durasi video selama sebelas menit. Kecamuk yang muncul justru diciptakan oleh keheningan yang ditampilkan pada skena sebelum dan paska penembakan, ketika warga Nuketown di Amerika Serikat tengah menjalankan aktivitas di rumah dan menjadi korban. Baik di The Plastic Garden maupun di Aksi Diam Kamisan, saya melihat harapan-harapan yang pincang pada sosok korban. Mereka sama-sama meneruskan aktivitas normal dalam kehidupan sehari-hari, namun tak pernah lepas dari ingatan atas tragedi masa lalu dan melewati penantian panjang demi penuntasan kasus yang menimpa keluarga, kerabat, bahkan diri mereka sendiri.

Ip Yuk-Yiu menciptakan video ini dengan memanipulasi salah satu video game yang paling terkenal dalam tembak-menembak, Call of Duty: Black Ops. Ia menghilangkan gambar control panel dan senjata penembak, hingga hanya terlihat suasana rumah dan pekarangan di Nuketown yang berlangsung pada era Perang Dingin. Seluruh gambar di video ini memiliki ilustrasi musik latar yang kuat. Video dimulai dengan memperlihatkan pekarangan rumah bernomor satu dan mengibarkan bendera Amerika Serikat. Di dalamnya, seorang lelaki dan perempuan berbentuk manekin tengah menonton televisi. Gambar-gambar selanjutnya memperlihatkan aktivitas sehari-hari yang biasa saja—mencuci piring, bermain di pekarangan, menikmati pemandangan di balkon. Di beberapa gambar, kita bisa melihat langit yang cerah dan dilengkungi pelangi serta kupu-kupu yang terbang mengitari pekarangan. Selang beberapa menit, layar berubah jadi hitam dan terdengar lagu latar yang berputar.

There was a turtle by the name of Bert
And Bert the Turtle was very alert
When danger threatened him he never got hurt
He knew just what to do

He’d duck and cover, duck and cover
He’d hide his head and tail and four little feet
He’d duck and cover!

 Lagu ini terdengar riang dan jenaka, seolah dibuat khusus untuk anak-anak. Meminjam definisi yang dikatakan The Free Dictionary, idiom duck and cover disamakan dengan mencari perlindungan. Mereka yang duduk di bangku sekolah dasar dan lanjutan pada era 50-60-an mengalami masa belajar di sekolah ketika latihan tempur tengah berlangsung demi mengantisipasi serangan nuklir. Bila guru menginstruksikan “duck and cover,” maka semua orang harus menghentikan aktivitasnya dan bersembunyi di bawah meja atau menempel ke tembok, memposisikan diri seperti janin, lalu menautkan setiap jari pada kedua tangan dan meletakkannya di belakang leher dalam pose berlindung. Mendengar lagu ini berputar tanpa ada keterangan gambar apapun membuat kita berasumsi tengah terjadinya penyerangan yang memaksa warga untuk menyelamatkan diri.

Sebagai generasi yang lahir pada 90-an dan tinggal di pinggir selatan Jakarta, saya tak pernah melihat dengan mata kepala sendiri terjadinya tragedi kemanusiaan. Saat Reformasi, ingatan yang saya punya hanyalah orang tua yang menjaga saya untuk tetap di rumah agar terhindar dari kekacauan yang tengah terjadi di berbagai tempat. Maka hati saya teriris, ketika layar kembali menampilkan suasana Nuketown dengan warga yang sudah tanpa kepala dan lengan. “Rumah” yang pernah memberikan rasa aman kepada saya ketika terjadinya kekacauan pada 1998 ternyata tak bisa selalu menjadi tempat perlindungan terbaik. Suasana jadi semakin remuk, setelah mengetahui bahwa warga yang berupa manekin di Nuketown itu tak pernah jadi bagian utama dari permainan Call of Duty. Namun, menembak kepala mereka dapat menghasilkan poin bonus.

Sontak saya membayangkan berbagai nama yang mati tertembak pada masa Reformasi—Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hendriawan Sie, dan Hafidin Royan. ‘Poin bonus’ macam apa yang membuat para penembak dari rezim Soeharto sampai tergiur untuk melucuti nyawa manusia begitu saja? Padahal keempat mahasiswa Universitas Trisakti itu tak melawan, tak berbuat kekacauan. Representasi yang ditampilkan video ini lantas terasa familiar di Indonesia dan begitu dekat dengan tema Orde Baru di OK. Video tahun ini. Tak dapat disangkal jika video ini mendapatkan penghargaan karya terbaik atas kehadirannya yang mampu menjadi representasi atas tindakan represif negara.

Bagi pemain video game Call of Duty: Black Ops, skena yang ditampilkan di The Plastic Garden mungkin tak dihitung sebagai tragedi kemanusiaan. Toh ini hanya permainan, yang ditembak pun bukan manusia betulan, melainkan plastik-plastik berupa manekin. Namun bagaimana jika kita menariknya ke dunia nyata, lalu menemukan pemerintah dan oknum lainnya yang tak mau mengakui tragedi yang menjadi ingatan kelam bagi bangsa Indonesia? Bagaimana kalau warga hanya dianggap mainan yang tak dianggap memiliki hak untuk hidup?

Daftar panjang tragedi kemanusiaan yang terjadi selama Orde Baru bukan sekadar nama yang berjejer tanpa makna. Tragedi 1965, Tanjung Priok 1984, Talangsari Lampung 1989, Penembakan Misterius (Petrus), Pembunuhan Marsinah, Tragedi 27 Juli 1996, Penculikan Aktivis 1997/1998, Tragedi Trisakti 12 Mei 1998, dan Tragedi Semanggi I & II adalah beberapa dari banyaknya kasus yang telah merenggut Hak Asasi Manusia jutaan orang. Hingga kini, masih belum ada kejelasan dan tindak lanjut dari pemerintah. Bila pemerintah merasa sudah berhasil menghilangkan ingatan itu dari buku-buku sejarah, mereka tak bisa membendung orang-orang yang tak berhenti melawan. Sekelompok orang yang mengikatkan diri dalam Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK) dan Jaringan Relawan Kemanusiaan (JRK) bersama Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengorganisir berbagai kegiatan dan advokasi agar masyarakat dan negara mengusut tuntas dan melawan lupa, salah satunya melalui Aksi Diam Kamisan pada setiap pekan sejak 2007.

Kalau kita lihat di video The Plastic Garden, seluruh warga yang tak lagi berkepala dan berlengan itu tetap meneruskan aktivitas hariannya yang biasa: mencuci piring, menonton televisi, bersantai di balkon, dan bermain di pekarangan. Begitu pula dengan para pelaku Aksi Diam Kamisan yang meneruskan aktivitas hariannya dalam kehidupan masing-masing. Namun ada rasa kebersamaan yang membuat perjuangan tak pernah putus. Mereka selalu meluangkan waktu untuk mendatangi Istana Negara setiap hari Kamis, melayangkan Surat Terbuka kepada Presiden, melakukan perenungan bersama, dan mengajak lebih banyak orang lagi untuk peduli dan bergerak. Upaya mereka kemudian mendapatkan dukungan dari berbagai tempat dan memunculkan gerakan penyokong dalam berbagai bentuk. Keikutsertaan warga dan anak muda dipercaya dapat membentuk persepsi yang lebih nyata mengenai sejarah dan tak menelan begitu saja kisah romantis rezim Orde Baru.

Aksi diam bukan berarti mendiamkan. Seperti yang dipercayai: diam berarti telah kehilangan hak sebagai warga negara, sementara berdiri menunjukkan kepemilikan atas hak namun sadar hak itu belum sepenuhnya didapatkan karena pemerintah memilih tidak peduli. Hingga kini, Aksi Diam Kamisan tak hanya menuntut tragedi kemanusiaan pada masa Orde Baru, namun juga paska Reformasi. Ini menandakan bahwa perjuangan tak pernah usai, Hak Asasi Manusia masih dikerdilkan, kecemasan akan masa depan masih belum bisa dihentikan. “Dalam diam, kami melawan” menjadi semangat yang juga ditemui dalam video The Plastic Garden.

Dinda Larasati

Dinda Larasati tengah menempuh pendidikan sarjana di jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI, peminatan Kajian Media. Kajiannya cenderung berkisar pada tema industri budaya, komunikasi politik, gerakan sosial, dan pemanfaatan media baru. Dinda juga merupakan Pemimpin Umum Pers Suara Mahasiswa UI dan Pendiri Taman Baca Bulian. Beberapa puisi dan prosanya telah dipublikasikan melalui jurnal sastra terbitan The Murmur House, Majalah Cobra, dan zine lokal. Selain menulis, Dinda juga membuat karya seni, salah satunya muncul di pameran kolektif Buka Warung di RURU Gallery (2015).