Muda itu Senjata

Muda itu Senjata

Muda itu Senjata
Available only in Bahasa Indonesia

 

Pekan lalu, di antara sinar-sinar terang karya seni video dan bebunyian nyaring di gedung C, mata saya tertambat pada rangkaian gambar berukuran sedang yang menempel di dinding. Guratannya tampak kasar, leluconnya butuh waktu untuk dicerna, dan karakternya absurd. Koleksi komik singkat satu-panel ini adalah karya dari Reza Mustar, yang lebih dikenal lewat nama penanya, Komikazer.

Dari sekian banyak karya yang ia sajikan, satu panel secara khusus menarik perhatian saya. Seorang pria ceking dengan raut wajah semenjana berdiri di sebelah kiri. Badannya penuh tato, namun tangan dan lehernya bersih. Ia dicap sebagai perwakilan ‘Jaman Orde Baru.’ Di sebelahnya, seorang pria dengan gaya rambut kekinian dan senyum gahar berdiri memamerkan tangannya yang penuh tato, namun tubuhnya kosong melompong. Ia dicap sebagai perwakilan ‘Jaman Sekarang.’ Dan dalam satu panel yang sederhana, Azer berhasil merangkum pergulatan antar generasi yang terjadi setelah Orde Baru berhasil dijatuhkan. Salah satu arena pertarungan yang paling sengit adalah pada aktivisme.

Kenyataan jaman tentunya membentuk militansinya masing-masing. Militansi itu muncul dengan ciri tertentu yang, di balik semua pretensinya, sejatinya adalah respon dan reaksi terhadap kenyataan jaman yang ia hadapi. Jelang 1998, muncul generasi aktivis yang rajin membakar semangat rakyat di tataran bawah tanah dengan slogan berapi-api dan narasi besar yang menggugah pemberontakan. Zely Ariane dalam tulisannya di Indoprogress, Mengenal Generasi Aktivisme Kita, menyebut mereka generasi heroik-dramatik. Tanpa sadar, dalam ranah aktivisme dan gerakan sosial sendiri pun kita masih punya kecenderungan untuk mencari figur-figur dramatis ini. Maka, aktivisme kita pun sibuk mengulang-ulang kisah heroik para pemberontak Reformasi, mengelu-elukan 13 aktivis demokrasi yang hilang sampai sekarang, dan menangisi pembunuhan misterius aktivis hak asasi manusia Munir Said Thalib.

Mereka diwakili oleh sang sosok ceking berwajah khawatir yang penuh tato di badannya. Ia adalah si pemberontak tersembunyi, yang bisa menyembunyikan protesnya hanya dengan mengenakan baju. Menunjukkan militansi politik dan pemberontakan identitas dalam bentuk apapun, dalam konteks Orde Baru, memang bukan perkara main-main. Selain memperebutkan ruang publik dan ruang berekspresi, anak muda pada masa itu juga mencari-cari celah untuk melakukan perlawanan secara simbolik. Ada amarah terpendam yang lebih dalam dari sekedar kehendak membuat onar pada kerusuhan konser Metallica di awal 90’an, misalnya. Ada maksud lebih dari pose komunitas punk pertama di Jakarta, Young Offenders, yang mengecat mohawk mereka dengan warna Merah-Putih dan mabuk-mabukkan di pinggir jalan pada peringatan Hari Kemerdekaan.

Tapi, aktivisme dan perilaku politik anak muda pun bergeser. Riset dari Pamflet di 2014 menunjukkan bahwa 73,4% anak muda tidak pernah mengikuti demonstrasi, dan 62% anak muda tidak mengikuti organisasi apapun, bahkan di tingkat sekolah, universitas, atau tempat tinggalnya. Di satu sisi, anak muda seolah-olah menjadi lebih pasif dan tidak mau tahu soal pergerakan sosial dan aktivisme. Tapi di sisi lain, generasi muda inilah yang jadi sasaran kampanye kedua kandidat pada Pilpres tahun lalu, dan dikejar-kejar gerakan Islam Radikal dan Tarbiyah. Mereka boleh jadi diwakili di karya Azer oleh sang pemberontak bangga yang pamer tato di tangan tapi badannya bersih – seseorang yang hanya sok-sokan jadi pemberontak. Namun, tidak ada yang menyangkal bahwa mereka masih bergerak.

Persoalannya ada pada bagaimana gerakan sosial yang hidup pada era Orde Baru bisa beradaptasi dengan kenyataan ini. Zely, misalnya, mengenang dengan heran interaksinya dengan seorang aktivis muda yang dengan santainya bilang bahwa dia “tidak mau berkomentar karena belum tahu” tentang satu isu. Dalam sudut pandang aktivis di generasinya, jawaban seperti itu akan segera dikritik karena dianggap tidak militan. Tapi, dalam konteks generasi sekarang, jawaban itu masuk akal. Di tengah makin bisingnya arus informasi di media sosial, wajar bila generasi ini jadi, meminjam istilah Zely, “tak mau mendalam, instan, pikirannya pendek-pendek dan sederhana, gampang galau, tak bisa diskusi terlalu panjang dan ruwet, dan tak bisa lepas matanya dari gawai (gadget).”

Tantangan baru yang dihadapi, kalau begitu, adalah bagaimana aktivisme di Indonesia bisa move on dari (sekedar) mengulang narasi heroik tentang Reformasi. Pakar media sosial Syafiq Pontoh, misalnya, pernah berujar bahwa aktivisme saat ini lebih fokus pada “narasi-narasi kecil” dan tidak lagi didorong oleh keinginan untuk melawan dan memberontak, melainkan oleh kehendak melakukan sesuatu dari tingkat paling kecil sekalipun. Organisasi seperti Change.org dan Indorelawan kini tanpa tedeng aling-aling menggeser taktik dari taktik perlawanan jadi taktik yang serupa dengan biro iklan – memulai kampanye sosial yang mudah, inspiratif, dan menggugah. Mereka belajar menarik massa dari headline koran lampu hijau dan situs-situs clickbait macam Buzzfeed, dan menghindari slogan perlawanan grandiose yang hanya akan mengintimidasi anak muda.

Maka, pembacaan atas zaman tersebut melahirkan siasatnya masing-masing. Bahkan Azer sendiri, yang mulai berkarier jauh sebelum Internet dan media sosial marak dijadikan ajang pamer gaya, mengunggah karya-karyanya untuk OK Video di fanpage Facebook-nya yang ramai dikunjungi. Dalam karyanya, Azer tidak tampak berpihak pada satupun karakter di komik tersebut. Dua-duanya ia tampilkan dengan kekonyolannya masing-masing: baik pretensi karakter Jaman Sekarang, maupun lemasnya karakter Jaman Orde Baru. Saya pun terbahak-bahak melihatnya, karena kekonyolan tersebut hanya terjadi saat kedua jaman tersebut terus menerus kita pandang sebagai dikotomi yang menolak belajar dari kegagalan dan keberhasilan satu sama lain. Memecah dikotomi ini, rupanya, jauh lebih genting ketimbang berorasi mengelu-elukan pahlawan Reformasi maupun terkekeh-kekeh menyindir aktivisme lama yang (seolah) telah kehilangan relevansi.

Raka Ibrahim
Lahir di Surabaya. Tulisannya pernah dimuat di beberapa media independen seperti Gigsplay, Jakartabeat, Indoprogress, dan Jurnallica. Pada 2013, ia mendirikan webzine independen Disorder Zine bersama kawan-kawannya. Entah kenapa terpilih sebagai salah satu peserta Lokakarya Kritik Seni Rupa yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta dan ruangrupa pada 2014. Saat ini aktif di Pamflet, Koalisi Seni Indonesia, dan RutgersWPF.