Beranda

OK. PANGAN

OK. VIDEO – INDONESIA MEDIA ARTS FESTIVAL 2017

Pengantar

OK. Video – Indonesia Media Arts Festival merupakan perhelatan seni media dua tahunan yang diselenggarakan oleh OK. Video. Sejak penyelenggaraan pertama tahun 2003, kehadiran festival ini bertujuan untuk melihat, mencatat, dan membaca perkembangan budaya teknologi dan media yang telah mengubah perilaku dan cara pandang masyarakat terhadap fenomena di sekitarnya; serta bagaimana seni media, sebagai seni yang memiliki peluang sebagai platform yang mampu memadukan persilangan medium seni, teknologi, dan sains, menanggapi peristiwa sosial tersebut. Di setiap penyelenggaraannya, festival seni media ini berusaha menghadirkan tema- tema spesifik yang kontekstual dengan situasi kesezamanan masyarakat Indonesia, regional, maupun global.

Pada edisi ke delapan yang diselenggarakan tahun ini, OK. Video mencoba melihat peluang seni media dalam menarasikan dan mewacanakan isu politik pangan. Isu ini dihadirkan sebagai upaya untuk melihat pangan sebagai medium yang memiliki sejarah kebudayaan yang mencakup sosial, budaya, ekonomi, dan lain sebagainya. Lalu bagaimana teknologi, media, dan sains, dilihat tidak hanya berperan sebagai pendukung bagi pengadaan dan pengembangan kebutuhan pangan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga sebagai media kritis yang menanggapi situasi eksplorasi dan komodifikasi pangan oleh teknologi, media, dan sains itu sendiri yang memiliki dampak besar terhadap perubahan lingkungan, sosial, politik, dan ekonomi. Seni media dicoba ditempatkan sebagai sebuah upaya untuk melacak, menelusuri, menemukan, memaparkan, mendukung, menyerang, dan atau bahkan bertindak sebagai media yang mencoba mengintegrasikan antara gagasan, hasrat, peluang, dan usaha nyata dalam pemenuhan kebutuhan pangan, melalui peluang eksplorasi artistik yang dimungkinkan lahir dari persilangan antara teknologi, media, sains, dan seni.

Dalam menghadirkan karya-karya seni media yang menjadikan tema pangan sebagai narasi dan wacana yang dibicarakan, festival seni media ini berusaha menghadirkan spekulasi artistik yang mampu mengajak para Pengguna teknologi, media, dan sains, termasuk juga praktisi seni, untuk bersama-sama berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam usaha pemenuhan kebutuhan pangan. Dengan demikian, festival ini menjadi ruang terbuka berlangsungnya dialektika berbagai sudut pandang dalam melihat pangan sebagai medium, teknologi, ideologi, representasi, serta melihat politik pangan sebagai usaha bersama dalam menyiasati tantangan ke depan dalam pemenuhan kebutuhan pangan manusia. Usaha ini akan dicoba dikomunikasikan melalui beberapa program festival, baik program utama maupun program pendukung yang telah berlangsung sejak bulan Mei hingga Desember 2017 mendatang.

Kuratorial

Pengantar

OK. Video – Festival Seni Media Indonesia ke-8 berlangsung dari tanggal 22 Juli hingga 16 Agustus 2017. OK. Video mengorganisir beragam pameran yang terdiri dari pameran karya seni, penampilan seni, intervensi, teater spesifik, proyek seni, proyek kolaboratif, dan penelitian oleh 25 artis dan 14 residensi artis yang berasal dari 13 negara. Pameran tersebut memperkenalkan pangan sebagai sebuah media, teknologi, ideologi, dan representasi. Dibungkus dalam konteks lokal, pameran yang diselenggarakan di Gudang Sarinah Ekosistem dan Bogor, daerah satelit di pinggiran ibukota, tersebut merefleksikan keterkaitannya dengan berbagai inisiatif dan aktor serta andilnya dalam wacana tentang seni media dan isu-isu pangan pada tataran regional dan global

Proyek-proyek Baru

Sejak Januari 2017, tim kuratorial yang dikepalai oleh Julia Sarisetiati dan Renan Laru-an telah berhasil mengundang lebih dari 30 artis dan praktisi untuk memperkaya dan menggali tema festival tahun ini. Separuh dari individu dan kelompok yang diundang dalam acara ini telah menginisiasi berbagai proyek penelitian baru dan/atau memperdalam penelitian mereka pada proyek-proyek yang tengah berjalan melalui beragam komisi dan program residensi artis Open Lab. Empat hasil proyek Open Lab akan diresmikan dalam pameran, sementara lima lainnya akan menggunakan Gudang Sarinah Ekosistem dan komunitas terkait sebagai tempat pelaksanaan riset dan lokakarya.

Karya-karya yang baru akan dipresentasikan oleh Bakudapan Food Study Group, Jen Liu, Luinambi Vesiano, Mark Sanchez, Minerva Co-Lab, Saleh Husein, Gelar Agryano Soemantri, dan Syaiful Garibaldi. Studio arsitektur pppooolll mendirikan sebuah bangunan sementara yang akan digunakan untuk memfasilitasi interaksi antara masyarakat dan seniman.

Penampilan, aksi, dan meditasi

Penyajian program pameran dalam festival ini telah didesain untuk menciptakan sebuah dialog dengan lokasi Jakarta, situasi di Indonesia, dan konteks Asia Tenggara sesuai dengan ide awal pameran. Ales Cermak, Carolina Caycedo, Agung Kurniawan, dan Bakudapan Food Study Group akan mewujudkan penampilan mereka dalam rangkaian acara pada festival tersebut. Dengan menggunakan infrastruktur yang tersedia di Gudang Sarinah Ekosistem, Warung Ramah, Lintang Panlipuran dan FORKS, dan Kantin yang Kemaren akan berkolaborasi dalam pengaturan tata ruang dan kegiatan harian.

Arsip

Arsip-arsip yang akan ditampilkan dalam pameran meliputi: proyek ruangrupa yang bertajuk sejarah kolonial gula dan proyek penelitian sejarah seni yang ditugaskan oleh OK.Video. Kolaborasi ruangrupa dengan Noorderlicht akan turut berfokus pada peninjauan ulang foto-foto dan berbagai proyek yang dilaksanakan pada tahun 2012 silam. Dua peneliti, Nastiti Dewanti dan Leonhard Bartolomeus membuat linimasa tentang sejarah awal seni yang mengikuti gerakan terkait ‘lingkungan’ dan ‘makanan’ dalam artikulasi dan penciptaan seni di Indonesia. Linimasa tersebut kemudian disandingkan dengan materi-materi dari ASEAN Secretariat Resource Center dan the Sajogyo Institute yang berhubungan dengan ekonomi politik, politik administrasi/manajerial, dan sejarah sosial dari makanan.
***

 

Julia Sarisetiati

Julia Sarisetiati (1981, Jakarta) adalah seorang seniman, fotografer dan kurator. Bagian dari ruangrupa. Sari adalah salah satu direktur kreatif RURU Corps (www.rurucorps.com), sebuah badan komunikasi visual yang didirikan oleh tiga organisasi seni di Jakarta – ruangrupa, Forum Lenteng dan Serrum. Karyanya pernah dipresentasikan di  SIASAT – 15 Jakarta Biennale tahun 2013; Menghidupkan Sasaran # 5: Dobrak! – 25th Anniversary of Cemeti, Cemeti Art House, Yogyakarta tahun 2013; Singapore Biennale tahun 2011; dan Gwangju Biennale 2016.

Renan Laru-an

Renan Laru-an (1989, Sultan Kudarat) adalah peneliti dan kurator yang berbasis di Filipina. Ia mendirikan DiscLab platform multi-disiplin dan organisasi ‘virtual’ untuk menulis, teori, kegiatan diskursif dan penelitian jangka panjang terkait seni kontemporer Filipina dan budaya visual. Ia mengkuratori bersama First Lucban Assembly: PAMUMUHUNAN (Waiting for a Capital) di FIlipina.  Dia adalah alumnus International Curator Course, Gwangju Biennale dan anggota dari “SYNAPSE” – Jaringan Kurator Internasional  di HKW,  Berlin.

SENIMAN

MALAM PEMBUKAAN

Sabtu, 22 Juli 2017 pukul 19:00 WIB
Hall A4, Gudang Sarinah Ekosistem

Pertunjukan Beyond Control (Carolina Caycedo)
Sabtu, 22 Juli 2017 pukul 20:00 WIB – selesai
Hall B, Gudang Sarinah Ekosistem
Pengisi Acara: Carolina Caycedo

Malam Pembukaan akan diawali oleh pertunjukan Beyond Control karya Carolina Caycedo yang merupakan salah satu seniman yang terlibat di dalam festival. Pertunjukan ini akan melibatkan pengunjung pembukaan untuk berpartisipasi.

Pertunjukan Musik dan Visual “Obrolan Meja Makan”
22 Juli 2017, pukul 21:00 WIB – selesai
Alley Hall A dan B, Gudang Sarinah Ekosistem
Pengisi Acara: Jason Ranti, Catur HD, Allan Soebakir, Nissal Berlindung, VJ Herbal, Uncle Twis

Kolaborasi pertunjukan musik folk bergaya blues oleh Jason Ranti dan Catur HD dengan eksperimentasi visual oleh Allan Soebakir dan Nissal Berlindung, serta kolaborasi antara VJ Herbal dengan Uncle Twis. Pertunjukan musik Jason Ranti dan Joe Million yang akan berkolaborasi dengan Allan Soebakir yang akan menerjemahkan lirik dan musik dari kedua musisi tersebut. Antara musik folk bergaya blues dengan elektronik hip-hop rap yang keduanya mengolah narasi kehidupan sehari-hari yang bertajuk “Obrolan di Meja Makan” akan memeriahkan Malam Pembukaan festival tahun ini.