Apa yang Harus Dilakukan?

Apa yang Harus Dilakukan?

Apa yang Harus Dilakukan?
Available only in Bahasa Indonesia

 

“For what is Russia? It’s a very big corporation, it should be managed as well as Gazprom. We are the nation’s elite, we’ve earned the right to shape the future.”

* * * *

Salah satu narasi sejarah yang paling menarik adalah tentang nasib sebuah negara setelah pemerintahnya yang dianggap biadab berhasil digulingkan. Rumania setelah Ceausescu, Jerman setelah Hitler, Irak setelah Saddam, Amerika setelah Bush. Dua narasi paralel yang sama-sama monumental dan menarik untuk digali adalah nasib Rusia setelah runtuhnya Uni Soviet, dan Indonesia setelah hancurnya Orde Baru. Dalam trilogi video Songspiel Triptych 2008-10, kolektif seni asal Rusia, Chto Delat?, membongkar pasang kisah demokratisasi Rusia setelah Tirai Besi runtuh pada 1991. Ketiga video yang berdurasi rata-rata 20-30 menit ini menarasikan perubahan tersebut dalam bentuk drama musikal yang satir dan absurd.

Pada film pertama, Perestroika Songspiel: Victory over the Coup, mereka mengumpulkan lima karakter yang mewakili para ‘pahlawan’ demokrasi Rusia: seorang demokrat idealis yang baru berkuasa, seorang pemberontak yang romantis, seorang pebisnis yang oportunis, seorang ultranasionalis yang getir, dan seorang feminis yang baru bisa bersuara. Mereka dipisah dalam bilik tersendiri, masing-masing memiliki harapan dan pendapatnya mengenai demokratisasi Rusia—pendapat yang akhirnya dibalas oleh koor musikal/narator yang mewakili suara publik.

Dalam film pertama yang membuat geleng-geleng kepala, kita menonton bagaimana idealisme berlebihan kaum demokrat yang berkuasa dalam vakum politik di Rusia dimanfaatkan oleh para pebisnis yang jadi oligarki baru. Sementara, para feminis, pemberontak, dan ultranasionalis terpinggirkan, namun memiliki kepentingan dan keinginan masing-masing. Sang pemberontak ingin kekuasaan dipegang rakyat, namun menafikan para feminis yang ingin membela hak perempuan. Pada saat bersamaan, sang ultranasionalis semakin condong pada konservatisme politik dan agama, dan menjadi ‘kaki tangan’ para oligarki. Ketika kekuatan ‘alternatif’ ini sibuk berperang antara dirinya sendiri, para demokrat yang semakin korup dan oligarki yang semakin berpengaruh terus memegang kekuasaan tanpa pernah ditantang.

Film kedua, Partisan Songspiel: A Belgrade Story, menunjukkan bagaiman perpecahan yang sama terjadi di Belgrade, Serbia, melalui dialog kaum yang berkuasa (pebisnis, pemerintah, dan ultranasionalis) dengan empat kaum termarjinalkan: seorang Romani yang memprotes penggusuran dari Pemkot, seorang pekerja yang ditutup pabriknya tanpa kompensasi, seorang veteran perang yang cacat dan tak diperhatikan negaranya, serta seorang lesbian yang anti-perang dan pro hak LGBT. Serupa dengan film pertama, mereka terlalu sibuk bertengkar antara satu sama lain, sampai-sampai mereka lupa bahwa mereka sama-sama dimanfaatkan oleh para penguasa.

Tower Songspiel, film ketiga, menyajikan implikasi modern dari fragmentasi ini. Pada 2007, Gazprom (perusahaan industri gas alam terbesar di Rusia) berencana mendirikan Okhta Center, sebuah gedung pencakar langit di St. Petersburg, Rusia. Proyek kontroversial ini ditentang oleh banyak pihak karena dianggap merusak arsitektur kota (gedung yang dirancang jauh lebih tinggi dari batas tinggi bangunan di St. Petersburg). Di tengah protes yang makin ricuh dan kecurigaan terhadap pemerintah kota yang dianggap tak becus dalam meloloskan proyek tersebut, Okhta Center akhirnya batal dibangun. Film ini dibuat berdasarkan studi terhadap konflik tersebut, dan menyajikan lima figur – seorang pemilik galeri, seniman kontemporer, politisi, pendeta di gereja Ortodoks, dan petinggi perusahaan—yang sibuk berdiskusi tentang menara tersebut. Dengan sudut pandangnya masing-masing yang semakin lama semakin absurd dan keblinger, mereka ‘berpidato’ mengajak massa—yang bernyanyi menyuarakan pendapat masing-masing di bawah podium—mendukung  pembangunan Okhta Center.

Arti nama kolektif seni asal Rusia yang memproduksi trilogi video ini, Chto Delat?, merangkum pertanyaan yang dihadapi Indonesia dan Rusia dengan baik: Apa yang harus dilakukan? Karena kedua rezim tersebut tidak hanya berkuasa melalui kekuatan militer dan hegemoni finansial, namun juga dengan pencucian otak massal yang membentuk pola pikir, zeitgeist, dan bahkan sikap politik sebuah generasi. Jika Indonesia dicekoki mimpi-mimpi brilian Pembangunan, ilusi kemakmuran ekonomi dan stabilitas nasional, rakyat Uni Soviet merasa seperti superpower, pahlawan ideologis yang dimusuhi seluruh dunia.

Setelah Reformasi dan makin dijaminnya kebebasan berekspresi serta runtuhnya dominasi ideologi Pancasila ala Orde Baru, Indonesia pun sebenarnya ikut bertanya: chto delat? Terjadi kekosongan wacana dan politik yang seharusnya dimanfaatkan oleh kaum demokrat, namun malah diisi oleh kubu-kubu konservatif dan radikal. Ini sebenarnya resiko dan narasi yang terulang kembali berkali-kali dalam sejarah. Mulai dari transisi setelah Arab Spring yang tidak jelas, hingga beberapa negara Blok Komunis yang justru makin sengsara setelah Tirai Besi runtuh. Songspiel Triptych menunjukkan bahwa kemenangan, dalam konteks politik, tidak sesederhana itu. Setelah euforia kemenangan yang gilang gemilang reda, lantas apa yang tersisa? Apa yang harus dilakukan?

Saya teringat ucapan Mirwan Andan, peneliti dari ruangrupa, saat ia menyebut demokrasi di Indonesia sebagai ‘demokrasi prosedural.’ Instrumennya ada, hukumnya ada, namun implementasinya nol. Seolah-olah demokrasi. Mengutip ucapan ironis tokoh petinggi Gazprom di film ketiga: “Negara kita ini demokrasi! Kamu harus meyakinkan orang. Cari kata-kata yang pas dan persuasif. Pemimpin kita bilang, bunuh para lawan secara sembunyi-sembunyi, bukan di depan kamera televisi!”

Raka Ibrahim
Lahir di Surabaya. Tulisannya pernah dimuat di beberapa media independen seperti Gigsplay, Jakartabeat, Indoprogress, dan Jurnallica. Pada 2013, ia mendirikan webzine independen Disorder Zine bersama kawan-kawannya. Entah kenapa terpilih sebagai salah satu peserta Lokakarya Kritik Seni Rupa yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta dan ruangrupa pada 2014. Saat ini aktif di Pamflet, Koalisi Seni Indonesia, dan RutgersWPF.