Bilal

Bilal

Bilal

3 menit 4 detik
Video Kanal Tunggal
Indonesia, 2006

Tayang diam dalam interior rumah ibadah kaum Muslim dan suara bedug yang menjadi ciri khas pembuka adzan di Indonesia berjalan sekitar duapuluh detik durasi pembuka. Sesosok laki-laki berambut Mohawk masuk ke dalam bingkai. Ia kemudian mengumandangkan adzan dengan suara yang bukan miliknya (lip sync)—rekaman suara adzan Maghrib diambil dari salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Tayangan berdurasi empat menit ini berjalan dalam satu adegan utuh tanpa jeda.

Bilal menjadi salah satu video yang dalam lima tahun terakhir ini dipresentasikan di beberapa festival film dan pameran seni rupa. Salah satunya dalam The 55th Internationale Kurzfilmtage, Oberhausen, dalam tema Unreal Asia (2009). Video ini merefleksikan kondisi sosial masyarakat Asia, khususnya Indonesia, yang merupakan negara berpenduduk muslim paling banyak di dunia dengan beragam aliran. Performans Bagasworo sebagai tokoh dan juga pembuat video tersebut berhasil mengomunikasikan persoalan identitas melalui dua ideologi yang dibenturkan dalam satu bingkai, hingga memunculkan makna baru dari refleksi zaman kebebasan berekspresi pasca runtuhnya pemerintahan Orde Baru. Video ini juga mengkritik sentralisasi penyiaran televisi di Indonesia.

Bagasworo Aryaningtyas
Menempuh pendidikan Jurnalistik di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Ia salah satu anggota Forum Lenteng dan terlibat dalam beberapa proyek seni yang dibuat oleh Forum Lenteng, seperti proyek fotografi JEDA (2005) dan proyek film Cerpen Untuk Filem (2008). Videonya Bilal ditayangkan di International Film Festival Rotterdam (2008), International Short Film Festival Oberhausen (2009), dan menjadi finalis Indonesian Art Award 2010. Tahun 2010-2011, menjadi salah satu peneliti dalam penerbitan buku Seni Rupa Indonesia dalam Kritik dan Esai yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Saat ini, ia bekerja sebagai peneliti untuk Festival Teater Jakarta, Komite Teater, Dewan Kesenian Jakarta.