Pernyataan

ORDE BARU OK. VIDEO – INDONESIA MEDIA ARTS FESTIVAL 2015

Pameran, Pemutaran Karya, Pertunjukan Multimedia, Open Lab, Lokakarya, dan Simposium

15 – 28 Juni 2015, Galeri Nasional Indonesia – Jakarta

“Sebuah kisah perebutan persepsi publik 50 tahun lalu, “1 Oktober 1965, empat pernyataan Gerakan 30 September disiarkan sejak pagi hingga siang hari oleh Radio Republik Indonesia (RRI) yang telah dikuasai sejak dini hari. Radio menjadi saluran informasi satu-satunya yang populer dan dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat Indonesia, walau disaat itu, Indonesia sudah mempunyai Televisi Republik Indonesia. Selain RRI, Gerakan 30 September juga menguasai gedung telekomunikasi. Namun selepas Maghrib, satuan-satuan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) menyerbu dan merebut Radio Republik Indonesia dan gedung telekomunikasi dari penguasaan pasukan Gerakan 30 September. Jam 7 malam, RRI menyiarkan rekaman pidato Mayjen Soeharto yang menyatakan bahwa Gerakan 30 September telah dihancurkan. Keesokan harinya, semua media massa baik elektronik maupun cetak dikontrol militer.”

Peristiwa yang terjadi 50 tahun itu menjadi awal penguasaan teknologi media di bawah kontrol rezim otoriter Orde Baru (negara) mulai dari hulu hingga hilir untuk menjaga stabilitas politiknya di Indonesia selama 32 tahun kemudian.

Periode penguasaan teknologi media di masa kejayaan teknologi analog oleh negara juga terjadi di beberapa negara-negara di Asia, Afrika, Eropa Timur, dan Amerika Latin. Penguasaan ini merupakan hal yang paling vital, efektif, dan efisien dalam menjalankan desain strategi propaganda kekuasaan dan mengontrol perspektif publik. Periode itu berakhir hampir bersamaan dengan berakhirnya Perang Dingin dan awal perkembangan teknologi media digital di seluruh dunia, yakni sekitar akhir 1980-an dan 1990-an. Saat itu penguasaan teknologi media di tangan warga juga mulai memperlihatkan perannya, salah satunya dengan kehadiran alternatif informasi dan keberagaman perspektif.

Di lajur lain, korporasi yang memproduksi dan memasarkan teknologi media juga terus mengembangkan teknologi audiovisualnya agar lebih murah dan mudah digunakan oleh seluruh masyarakat di dunia. Di akhir perjalanan teknologi audiovisual pada masa analog tersebut, negara kemudian berhadapan dengan warga. Sebuah masa pertarungan dua perspektif, yakni informasi versi warga dan versi negara yang terjadi hingga masa digital saat ini.

Di tahun ke tujuh ini, festival OK. Video akan hadir dengan mengangkat tema Orde Baru sebagai poros festival. Tema Orde Baru sendiri diambil dari rezim pemerintahan Indonesia yang dipimpin oleh Soeharto selama 32 tahun (1966 – 1998). Orde Baru lahir tahun 1966 untuk membedakan diri dengan pihak antiperubahan yang dicap sebagai Orde Lama pimpinan Sukarno.

Orde Baru sebagai poros festival akan membenturkan dua hal, yakni (1) politik teknologi media analog yang dikuasai dan digunakan rezim otoriter (negara) membangun persepsi publik dan menyelesaikan persoalan dan (2) politik teknologi media digital yang dikuasai warga pasca berakhirnya Perang Dingin atau runtuhnya rezim otoriter dan awal kebangkitan demokrasi.

Melalui rangkaian programnya tahun ini, OK. Video mencoba bermain dengan cara memetakan, mendekonstruksi, bahkan menihilkan strategi rezim otoriter (negara) untuk menguasai teknologi media dalam membangun simulakrum heroisme (bapakisme), monopoli kebenaran, dan penyeragaman

persepsi; dan bahkan menjadikannya alat untuk menyelesaikan berbagai persoalan negara.

Membaca teknologi media analog dengan teknologi media digital diharapkan akan melahirkan perspektif baru dalam melihat sejarah dan mitos-mitos persepsi publik ciptaan rezim otoriter yang masih bertahan hingga hari ini. Peran warga yang di masa periode analog masih dianggap sebagai seorang anak yang tidak memiliki kekuatan, bodoh dan lemah, serta yang sedang ‘dibangun’; sedang peran negara (pemimpin otoriter) dianggap sebagai seorang Bapak yang kuat, pandai, penting, besar, dan yang membangun; akan dihadapkan dengan suatu masa bagaimana warga menyelesaikan persoalannya dengan teknologi media secara mandiri di hari ini.

Sejak kemunculan teknologi digital dan internet, warga dianggap telah memiliki alat komunikasi dan alat produksi dan distribusi informasi yang mandiri untuk merumuskan persoalan dan mengolah data hingga menghasilkan dampak atau solusi persoalan yang nyata dan tepat guna. Di masa analog, peluang demokratisasi teknologi media ditutup rapat-rapat. Peran warga yang ‘kreatif’ menyelesaikan persoalannya selalu dianggap sebagai tindakan subversif karena menghasilkan alternatif-alternatif informasi (kebenaran) yang berada di luar informasi resmi versi rezim otoriter. Berbeda dengan situasi di masa teknologi media digital. Peluang itu justru terbuka lebar. Dan di hari ini, peran warga dalam menyelesaikan persoalannya dengan teknologi media telah memasuki tahap kemandirian yang sistematis.

Pemilihan tema Orde Baru menjadi pembuka bagi perhelatan OK. Video di tahun-tahun mendatang yang memutuskan memperluas capaian artistik yang tidak hanya menghadirkan karya-karya berbasis waktu (video, film, dan pertunjukan) dan bersifat instalatif-multi kanal, tetapi juga seni bebunyian (sound art), digital imaging, seni berbasis internet, dan kemungkinan-kemungkinan lain dari karya-karya berbasis teknologi media yang berpeluang menghadirkan kebaruan gagasan artistik yang tak terbatas dan isu-isu kritis terhadap tema besar yang diusung.

Di tahun ini pula, OK. Video mengembangkan diri secara institusional festival dan memutuskan untuk mengubah namanya dari Jakarta International Video Festival menjadi Indonesia Media Arts Festival.