In Delta Flux

In Delta Flux

In Delta Flux

In Delta Flux - eflyer
[divider_padding]

In Delta Flux adalah pameran tentang negeri Belanda sebagai ruang singgah: jiwa-jiwa dalam pengembaraan, perkenalan menakjubkan, dan interaksi antara manusia dan bentang alam yang mereka huni. Pelanggaran dan mencari sensasi digabungkan dengan kenyamanan sebuah pengulangan dan peraturan. Semuanya dibalut dalam nuansa Belanda yang kental.

Seni pertunjukan dan seni lingkungan amat berpengaruh dalam dunia seni Belanda tahun 1970-an. Beberapa seniman dari genre ini yang dianggap penting dalam skala internasional menciptakan karya mereka di Belanda. Bas Jan Ader masih menginspirasi banyak seniman kontemporer, dan bukan hanya populer karena kematiannya yang misterius. Marina Abramović, yang dikenal karena penampilannya yang menguji batas-batas ketahanan fisik dan keterbatasan tubuh manusia, memproduksi dan mempersembahkan beberapa penampilan yang signifikan di Amsterdam. Karya-karya seni lingkungan ciptaan seniman besar seperti Marinus Boezem dan Robert Smithson masih dapat ditemukan di di Belanda. Beberapa karya dalam pameran In Delta Flux mencerminkan pengaruh seniman seni lingkungan dan pertunjukan masa lampau, tetapi dalam latar tempat dan waktu masa kini.

Karya-karya lain dalam pameran ini menampilkan masyarakat dan (sub)kultur Belanda. Di sini, dua sisi yang berseberangan bertemu. Belanda dikenal banyak orang sebagai negara yang progresif dan liberal menyangkut obat-obatan, seksualitas, hak kaum homoseksual, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan kebebasan individu. Namun, dalam sejarahnya, agama juga sangat penting. Agama kristen pernah berpengaruh besar bagi masyarakat. Pengaruh Gereja bagi masyarakat Belanda kini telah melemah, meskipun dapat dikira-kira seberapa besar yang masih tersisa, sadar atau tidak, dalam sifat dan pandangan mayoritas penduduk Belanda. Gereja sebagai institusi telah terpinggirkan, menjadi subkultur seperti yang lain, dan “agama” baru yang lebih bersifat pagan mulai bermunculan.

Arjon Dunnewind
Kurator

In Delta Flux is an exhibition about the Netherlands as a transitory space: wandering souls, remarkable acquaintances and interactions between humans and the landscape they inhabit. Transgression and thrill-seeking combined with the comfort of repetition and protocol, all with a Dutch flavor.

Performance Art and Land Art were influential in the Dutch art scene of the 1970s. Several artists who were internationally important in these genres made their work in the Netherlands. Bas Jan Ader still speaks to the imagination of many contemporary artists, and not only because of his mysterious death. Marina Abramović, known for her performances in which she tested the limits of physical endurance and the boundaries of the human body, produced and presented several significant performances in Amsterdam. Land Art pieces by major artists like Marinus Boezem and Robert Smithson can still be found in the Dutch landscape. Several works in the In Delta Flux exhibition echo the influence of the iconic Land Art and Performance Artists from the past but transpose their heritage to more contemporary times and settings.

Other works in the exhibition portray the people and (sub)cultures of the Netherlands. Here, extremes meet. The Netherlands is known to many as being liberal and progressive when it comes to drugs, sexuality, gay rights and other issues concerning individual freedom. But the Netherlands also has a history in which religion was very important and Christianity had a huge influence on Dutch society. The influence of the Church on Dutch society has diminished by now, although one might wonder how much of it is still embedded, subliminally or not, in the attitudes and views of the average Dutch citizen. The Church as an institution has become marginalized, a sub-culture like any other, and new, more pagan religions have emerged.

Arjon Dunnewind
Curator

[divider_advanced paddingTop=”30″ paddingBottom=”30″ thickness=”4″]

Pembukaan:
Rabu, 18 Desember 2013
19.00 – selesai

Dimeriahkan pertunjukan audiovisual oleh Johny Grim  dan musik oleh Deejay Gantung

Pameran:
19 – 25 Desember 2013 (kecuali hari Minggu)
11.00 – 21.00

di RURU Gallery
Jl. Tebet Timur Dalam Raya No. 6
Jakarta Selatan 12820

Opening:
Wednesday, 18th December 2013
19.00 – finish

With audiovisual performance by Johny Grim & music by Deejay Gantung

Exhibition:
19 – 25 December 2013 (except for Sunday)
11.00 – 21.00

at RURU Gallery
Jl. Tebet Timur Dalam Raya No. 6
Jakarta Selatan 12820

[divider_advanced paddingTop=”30″ paddingBottom=”30″ thickness=”4″]

[image source_type=”attachment_id” source_value=”1546″ align=”left” width=”300″ height=”200″ quality=”100″ lightbox=”true”]

Jacobine van Hellemond

Casa Rosso
2’40” (2010)

Casa Rosso menunjukkan dunia di balik tirai pertunjukkan seks langsung di Amsterdam. Ritme artis yang naik-turun panggung di tengah lingkungan yang terotomatisasi, tubuh-tubuh yang bergerak seolah didorong oleh gerakan mesin-mesin panggung, bunyi derit  tirai panggung, dan tangga yang menaungi panggung memberi tindakan para artis kesan yang sama dengan mesin tempat mereka bekerja.

Casa Rosso shows the world behind the curtains of a live sex show in Amsterdam. The rhythm of artists going onto the stage and off again takes place in automated surroundings. Bodies move around, seemingly propelled by the movement of the stage mechanics. The rattling of the curtains, the stairs that loom up from the stage give the artists’actions the same value as the mechanism in which they work.

[image source_type=”attachment_id” source_value=”1548″ align=”left” width=”300″ height=”200″ quality=”100″ lightbox=”true”]

Henk Otte

Orde van Dienst
6’51”  (2012)

Pada abad ke-16, Reformasi Protestan terjadi di Eropa Barat. Gereja Reformasi Belanda yang terbentuk dari gerakan reformasi itu berjuang untuk membersihkan tradisi, ritual, dan dogma. Gereja itu berkembang menjadi institusi yang mengubah kepercayaan menjadi agama yang terorganisasi dan merincikan cara hidup kristiani. Film ini dibuat berdasarkan siaran pelayanan Gereja Reformasi Spakenburg Noord di internet.

In the 16th century, the Reformation took place in Western Europe. The Reformed Church that arose from this Reformation held tight to sober traditions, rituals and dogmas. It developed into an institute that transformed beliefs into an organized religion and specified how Christianity should be experienced. This work is based on Internet broadcasts of services given by the Reformed Church of Spakenburg Noord.

[image source_type=”attachment_id” source_value=”1549″ align=”left” width=”300″ height=”200″ quality=”100″ lightbox=”true”]

Jan Hoek

Me & My Models
11’14” (2012)

Jan Hoek memotret model-model amatir: tunawisma berkelainan jiwa di Afrika yang tampil bak raja, seorang gadis tak berlengan dan berkaki, pecandu heroin yang berangan-angan menjadi bintang, atau bahkan orang-orang yang mengiklankan dirinya di internet. Sesi pemotretannya tidak pernah sesuai keinginan Jan. Sang fotografer dan modelnya selalu punya harapan yang berbeda: Sang model mau berhubungan seks, padahal Jan hanya ingin memotret anjing si model, atau modelnya mencoba tampil sangat glamor sewaktu Jan ingin menunjukkan kebusukan. Fotografi potret itu tidak sekadar soal foto, tapi juga soal hubungan antara fotografer dan model. Sejauh apa sang fotografer boleh berhubungan dengan model? Dalam Me & My Models, Jan berbicara tentang hal-hal buruk, lucu, menyakitkan, atau menyentuh yang terjadi selama ia memotret.

“Saya yakin selalu ada etika dalam fotografi. Hampir mustahil mengambil foto orang tanpa secara sadar atau tidak sadar melanggar batas, tanpa menghadapi hal-hal yang terjadi tanpa diinginkan atau diharapkan. Menurut saya hal ini biasanya ditutup-tutupi dalam fotografi, sedangkan saya ingin memperlihatkannya.” (Jan Hoek)

Jan Hoek photographs amateur models, mentally ill homeless people in Africa who look like kings, a girl with no arms and legs, a heroin addict who dreams of being a star, or people he simply finds in advertisements on the Internet. The photo shoots never are what he expects. The model and the photographer always have different expectations: the model wants to have sex while Jan only wants to shoot the model’s dog, or the model tries to be as glamorous as possible, while Jan wants to show decay. Portrait photography is not just about the image but also the relationship between the photographer and the model. How far can a photographer go with his models? In Me & My Models, Jan talks about the nasty, funny, painful or touching things that happen with his photo shoots.

“I believe there is always a certain degree of ethics involved in photography. It is almost impossible to take photographs of people without consciously or unconsciously crossing boundaries, without things happening that you don’t want or expect. I feel this is often covered up in photography, while I would like to show it.” (Jan Hoek)

[image source_type=”attachment_id” source_value=”1550″ align=”left” width=”300″ height=”200″ quality=”100″ lightbox=”true”]

Tim Leyendekker

The Healers
9’40” (2010)

Subkultur gay party ditampilkan dalam  tiga lapisan: sensasi malam hari, dan pasangan kencan. Dengan ketelitian bagai seorang dokter, Tim Leyendekker membedah lingkungan sosial yang disatukan oleh ilusi dalam rekonstruksi dekonstruktif akan kenangan yang berlatar kehidupan malam Rotterdam pada 1990-an. Lapisan-lapisan yang biasanya disatukan untuk membentuk kesatuan sinematografis dilucuti dan ditampilkan secara terpisah untuk memancing batas-batas narasi yang dibangun.

The gay party scene presented in a triptych: the thrills of the night, the location, the date. With surgical precision, Tim Leyendekker dissects a social environment held together by illusions in a deconstructive reconstruction of a memory set in the nightlife of Rotterdam in the 90s. Layers that are normally merged together to form a cinematographic entity are stripped bare and presented separately in order to provoke the boundaries of the constructed narrative.

[image source_type=”attachment_id” source_value=”1552″ align=”left” width=”300″ height=”200″ quality=”100″ lightbox=”true”]

Guido van de Werve

Nummer Vier (I don’t want to get involved in this I don’t want to be a part of this Talk me out of it)
11’47” (2005)

Beberapa hal sama tidak terelakkannya dengan gravitasi, betapa pun kita ingin menghindarinya—sesuai dengan subjudul film pendek ini. Dalam Nummer Vier, Guido van de Werve mempersembahkan bentuk kontemporer melankolia ala abad ke-19 yang dicampur dengan ketenangan belanda dan pengaturan waktu konseptual.

Berulang-ulang kita melihat adegan tak lumrah di depan latar yang  indah dan tenteram: seorang pria yang main piano di atas rakit di tengah danau yang tenang; paduan suara dan orkestra yang memainkan rekuiem di atas kapal yang layarnya terkembang; seseorang yang jatuh dari langit. Tidak ada hal-hal yang menggemparkan, tetapi dengan cara inilah Nummer Vier memperkenalkan hal-hal penting: alam, kesenian, keindahan, kehidupan, kematian. Subyek-subyek yang tidak bisa dihindari siapa pun, baik sebagai manusia maupun sebagai seniman.

Some things are as inevitable as gravity, however much we would like to avoid them – with which the subtitle of this short film whole-heartedly agrees. In Nummer vier, Guido van der Werve presents a contemporary form of spleen: nineteenth-century melancholy mixed with Dutch sobriety and conceptual timing. Over and over again, we see an unlikely scene unfolding against a picturesque and serene background: a man playing a piano on a raft in the middle of a smooth lake; a choir and orchestra performing a requiem on a ship under sail; someone falling from the sky. Nothing world-shattering, but these are the ingredients with which Nummer vier introduces important issues: nature, art, beauty, life, death. Subjects that no one can avoid, neither as a human being nor as an artist, but that can be defied – just like gravity. (text by LIMA / NIMk, Vinken & Van Kamen)

[image source_type=”attachment_id” source_value=”1553″ align=”left” width=”300″ height=”200″ quality=”100″ lightbox=”true”]

Melanie Bonajo

Matrix Botanica
22’26” (2013)

Matrix Botanica menampilkan kekuasaan manusia atas alam. Sebagian video ini direkam selama pertunjukan yang diadakan di Katedral Hijau, proyek Land Art yang dikerjakan oleh seniman Belanda Marinus Boezem. Katedral Hijau (De Groene Kathedraal) adalah suatu penanaman pohon poplar Lombardia secara berseni di dekat kota Almere di Belanda. Karya seni itu meniru ukuran dan bentuk suatu katedral sungguhan. Dalam bagian kedua film ini, Bonajo memperlihatkan orang-orang pribumi Belanda yang berkumpul untuk suatu upacara di Katedral hijau.

Melalui Matrix Botanica, Melanie Bonajo mengemukakan bahwa semua orang adalah pribumi di suatu tempat dan, bersama semua bentuk kehidupan lain, merupakan milik bumi. Menurut pandangannya, dalam berhubungan dengan alam, kita perlu mengenalinya bukan sebagai konstelasi benda-benda, tetapi sebagai liyan-liyan yang kreatif, mandiri, dan mampu mencipta. Ada keindahan dalam mengurus hal-hal seperti pohon, sungai, hutan, rerumputan, dan pegunungan layaknya mengurus seorang teman. Matrix Botanica mencoba meninggalkan model identitas manusia sebagai makhluk yang hanya terhubung secara minimal dan kebetulan dengan bumi.

Matrix Botanica is about the dominance of man over nature. Part of the video was shot during a performance held at the Green Cathedral, a Land Art project by the Dutch artist Marinus Boezem. The Green Cathedral (De Groene Kathedraal) is an artistic planting of Lombardy poplars near the city of Almere in the Netherlands. The work mimics the size and shape of an actual cathedral. In the second part of her film, Bonajo shows the indigenous people of the Netherlands gathering for a ceremony in the Green Cathedral.

In Matrix Botanica, Melanie Bonajo argues that all people are indigenous to somewhere and, alongside all other life forms, belong to the earth. In her view, our relation with nature is to recognize it not as a constellation of things but of creative, self-directed, originative others. There is a beauty in caring for things like trees, rivers, forests, grasses and mountains as friends. Matrix Botanica tries to disband the model of human identity as being only minimally and accidentally connected to the earth.

[image source_type=”attachment_id” source_value=”1554″ align=”left” width=”300″ height=”200″ quality=”100″ lightbox=”true”]

Jeroen Eisinga

40-44-PG
3’01” (1993)

“Mobil Volkswagen Beetle dalam film ini adalah milik saudara kembar saya, Bart. Nomor platnya saya jadikan judul film. Lokasinya di kampung halaman kami di Waspik, suatu desa kecil di selatan negeri Belanda. Bertahun-tahun kami menyetir ke mana-mana dengan mobil ini. Saat kami sedang sama-sama menganggur, kami sering melakukan atraksi seperti ini untuk mewarnai hari-hari kami. Ini seperti train surfing atau rolet Rusia versi kami. Mobilnya akan berjalan keliling tanpa pengemudi. Setirnya  diikat tali dan pedalnya diganjal bata.

Salah satu dari kami akan berjalan keliling dengan mata ditutup sambil berusaha menghindari lindasan mobil. Yang lain akan menonton dan bersorak ‘ke kanan’ atau ‘ke kiri’; ‘jalan terus’ atau ‘awas!’ Saya memutuskan untuk mengulangi permainan atau ritual ini. Dalam penampilan dalam film ini, saya yang berjalan dan Bart yang merekam. Dengan begitu, saya dapat melihat apa yang tidak dapat dilihat mata saya.” (Jeroen Eisinga)

“The Volkswagen Beetle in this film belonged to my twin brother Bart. The license plate is the title of the film. The location is our hometown of Waspik, a small village in the South of the Netherlands. We drove around in this car for many years, and during our year of mutual unemployment we occasionally did this stunt to spice up our long days. It was our own version of train surfing or Russian roulette. The car drove around in circles with no driver in it. The wheel was tied with a rope and there was a brick on the pedal.

One of us would walk around blindfolded, trying to dodge the car and trying not to get run over. The other one would watch and cheer, ‘to the left’ or ‘to the right’; ‘move on’ or ‘watch out!’ I decided to reenact this pastime or rite of passage. In this performance, I did the walking and Bart filmed it, enabling me to see what I could not see with my own eyes.” (Jeroen Eisinga)

[image source_type=”attachment_id” source_value=”1555″ align=”left” width=”300″ height=”200″ quality=”100″ lightbox=”true”]

Erik Wesselo

Düffels Möll
5’24” (1997)

Photo Courtesy: Annet Gelink Gallery, Amsterdam

Seniman Erik Wesselo diikat ke layar suatu kincir angin yang berputar berlawanan arah jarum jam dengan cepat. Gerakan kameranya begitu lembut, halus, dan menghipnotis. Pada awalnya, kamera mengikuti dia dari dekat, hanya tubuh dan sebagian dari layarnya yang tampak. Tidak ada suara. Perlahan-lahan, kameranya mulai mundur, memperlihatkan kemegahan kincir angin itu dan luasnya bentang alam sekitar. Pada menit-menit terakhir film, kameranya kembali mendekati Wesselo. Tapi kali ini gerakannya agresif dan membingungkan. Film ini berakhir ketika bilah-bilah kincir angin berhenti berputar.

Dengan mengikat dirinya di kincir angin, Wesselo memperkuat sekaligus membuat dirinya tak berdaya. Dengan terbang di udara pada ketinggian seperti itu, ia merasakan serunya mensurvei daerah sekitarnya dari perspektif baru. Pada saat yang sama, pergerakannya diatur oleh kekuatan alam. Menggunakan kamera untuk mencerminkan pengalaman psikologisnya, Wesselo menukar yang partikular dengan yang tak berbatas untuk menyampaikan beragam perasaan internal. Ia tidak hanya tertarik untuk mempersembahkan sesuatu pada bentang alam kampung halamannya dan sejarah lukisan Belanda, tindakannya ini juga menegaskan posisinya dalam konteks kesenian Belanda. (Sumber: Apex Art, New York, 2001)

The artist Erik Wesselo is bound to the sail of a windmill rotating swiftly counterclockwise. The movements of the camera are gentle, smooth and strangely hypnotic. Initially the camera follows him closely, with only his body and a section of the sail visible. There is no sound. Slowly the camera begins to zoom out, revealing the windmill’s monumentality and the vastness of the surrounding landscape. In the final minutes of the film, the camera returns to a close position, but this time the movements are aggressive and disorienting. The film concludes with the blades of the windmill coming to a stop.

By binding himself to the windmill, Wesselo is simultaneously empowered and powerless. Flying through the air at great heights, he experiences the rush of being able to survey his surroundings from a new perspective. At the same time, Wesselo’s movement is dictated by the forces of nature. Using camerawork to parallel his psychological experience, Wesselo interchanges the particular and the infinite to convey a range of internal emotions. Not only interested in paying homage to his native landscape and to Holland’s history of painting, his gesture also establishes his position within the context of Dutch art. (Source: Apex Art, New York, 2001)

[divider_top]

Curator’s Profile

Arjon Dunnewind

impakt.nl

Arjon Dunnewind, lahir di Ommen, Belanda, pada 1967. Menempuh pendidikan di Utrecht School of Arts. Pada 1988, ia menyelenggarakan Impakt Festival pertama dan pada 1993 dia mendirikan Impakt Foundation. Sepanjang 1990-an, menjadi kurator serta menyelenggarakan program dan presentasi bagi seniman dan pembuat film internasional, proyek yang nantinya berkembang menjadi Impakt Event. Dari 1994 sampai 1997, ia menjadi produser KabelKunst dan Vizir, dua seri televisi tentang seni video dan film eksperimental.

Pada 2000, ia memulai program Impakt Online, sebuah proyek yang bertujuan untuk mengembangkan internet sebagai platform dalam mempresentasikan siaran video dan proyek seni interaktif. Pada 2005 ia membuat Impakt Works yang memfasilitasi seniman dengan medium video, media digital, dan teknologi baru untuk membuat karya-karya baru.

Arjon telah menjadi kurator untuk banyak pameran dan program pemutaran, misalnya Castello di Rivoli di Italia, the Museo de Bellas Artes di Buenos Aires, dan NCCA di Moskow. Di samping itu, Arjon juga bekerja sebagai penasihat untuk beberapa organisasi kesenian seperti, The Dutch Film Fund, The Dutch Mediafonds & Fonds BKVB. Ia juga secara rutin memberikan kuliah tamu di beberapa akademi dan universitas seni serta berpartisipasi sebagai juri dalam berbagai festival dan kompetisi seni.

Arjon Dunnewind (born in Ommen, The Netherlands, 1967) studied at the Utrecht School of Arts. In 1988 he was co-organizer of the first Impakt Festival and in 1993 he established the Impakt Foundation. In the 1990’s he curated and organized presentations and touring programs for international artists and filmmakers, projects that would develop into the Impakt Events and become a regular part in the Impakt Foundations program. From 1994 till 1997 he produced KabelKunst and Vizir, two TV-series about video art and experimental film.

In the early 2000’s he started Impakt Online, a project aimed at developing the internet as a platform for the presentation of interactive art projects and streaming video. In 2005 he started a residency program called Impakt Works where international artists working with video, digital media and new technologies are supported and facilitated to make new work.

Dunnewind has curated many exhibitions and screening programs for e.g. Castello di Rivoli in Italy, the Museo de Bellas Artes in Buenos Aires and the NCCA in Moscow. He worked as an advisor for the Dutch Film Fund, department Research & Development, from 1996 until 2000 and for the Dutch Mediafonds & Fonds BKVB, department Innovative Music Video, from 2009 to 2012. He regularly gives guest lectures at art academies and universities and participates in juries for festivals and art-prizes.

[divider_advanced paddingTop=”30″ paddingBottom=”30″ thickness=”4″]

Pameran ini adalah bagian dari program RURU Gallery dan OK. Video yang bekerjasama dengan IMPAKT. Baca “December Programs with IMPAKT” untuk informasi selengkapnya.

This public lecture is part of program by RURU Gallery and OK. Video in collaboration with IMPAKT. Read “December Programs with IMPAKT” for further informations.

Translator (English to Indonesian): Dias Rifanza Salim
[divider_advanced paddingTop=”30″ paddingBottom=”30″ thickness=”4″]

Supported by:

Logo Mondriaan small

[divider_padding]

OK. Video merupakan salah satu divisi di ruangrupa, organisasi seni rupa kontemporer yang didirikan pada 2000 oleh sekelompok seniman di Jakarta yang bergiat mendorong kemajuan gagasan seni rupa dalam konteks urban dan lingkup luas kebudayaan melalui pameran, festival, laboratorium seni rupa, lokakarya, penelitian, serta penerbitan buku, majalah, dan jurnal.