Irresistible Decay

Irresistible Decay

Irresistible Decay

Instalasi video dan objek
Dimensi bervariasi
2015

Ari Dina mengumpulkan potongan-potongan film yang tidak terpakai di laboratorium Perum Perusahaan Film Negara (PFN). Alhasil, ia memperoleh 2689 frame seluloid yang sudah rusak (residu). Beragam gambar ia peroleh, tidak jelas dari film apakah potongan seluloid itu berasal. Ia lantas menyusun kembali potongan-potongan seluloid yang tidak berlabel dan minim keterangan isi itu.

Potongan seluloid ini, ia ambil dari salah satu ruang Gedung PFN di lantai dua yang dahulunya merupakan tempat pengerjaan pasca produksi film setelah diproses dari original camera negative. Gabungan antara potongan-potongan film yang telah rusak itu, akhirnya membentuk gambar dan narasinya tersendiri yang tidak sama sekali naratif. Tetapi karya ini justru mendorong persoalan lain, persoalan arsip sinema Indonesia, kondisi sejarah bangsa yang diawetkan, perangkat pengarsipan di Indonesia yang tidak memadai dan kondisi suhu di Indonesia yang cukup menyulitkan dalam hal pengarsipan materi seluloid. Irresistible Decay mengajak kita melihat kondisi kearsipan Indonesia yang ‘selalu sakit’ meski sudah berganti rezim. Ari juga memperlihatkan bagimana kondisi arsip tersebut meski terselamatkan, namun kondisinya sudah ‘tidak layak’.

Ari Dina Krestiawan
Bekerja dengan video, stop motion, dan dokumenter. Baru saja menyelesaikan studi magister Seni Urban dan Budaya Industri di Institut Kesenian Jakarta. Tahun 2005 melakukan residensi di El Despacho, Mexico City, Meksiko. Ikut terlibat dalam Zona Pertarungan pada perhelatan Jakarta Biennale XIII: ARENA tahun 2009 dan OK Video Flesh – 5th Jakarta International Video Festival 2011. Ia salah seorang anggota Forum Lenteng dan Lab Laba Laba. Sehari-harinya menjadi pengajar videography, film editing, dan seni eksperimental di Universitas Multimedia Nusantara.