Kebaruan Seni Rupa di Orde Baru

Kebaruan Seni Rupa di Orde Baru

Kebaruan Seni Rupa di Orde Baru

Perkembangan seni rupa pada masa kekuasaan Orde Baru menemui gejolaknya saat menciptakan kebaruan-kebaruan dalam kurun waktu 1970-2000. Kehadiran kritikus dan kurator juga jadi salah satu penanda atas munculnya pendorong gagasan penting dalam perkembangan seni rupa. Aminudin TH Siregar dalam diskusi “Nuovo Ordine: Yang Baru dari Seni Rupa ‘Masa Itu’” menggambarkan medan seni rupa baru itu lewat berbagai lukisan pada setiap era, yang menurut saya pribadi, begitu menarik.

Aminudin yang lebih akrab disapa Ucok menampilkan lukisan S. Soedjojono berjudul High Level. Ia melihat lukisan yang dibuat pada ‘70-an itu mampu menggambarkan medan seni rupa baru saat itu. Di dalamnya terlihat seorang kritikus yang digambarkan Soedjojono dengan jidat jenong, kurator yang terlihat mampu menjelaskan karya melebihi seniman, seniman yang mendampingi karyanya, kolektor yang nampak antusias mengamati karya dengan mata terbelalak, istri kolektor yang berdiri agak belakang sambil memegang kipas dan terlihat tak peduli, petugas lobi, hingga wartawan yang duduk mengamati. “Adegan ini selalu ada di pembukaan Galnas,” kata Ucok yang diiringi tawa sebagian peserta. Mungkin jadi terdengar menggelikan, karena diskusi siang itu berlangsung di Galnas, Galeri Nasional Indonesia.

Lukisan kedua dibuat pada ‘80-an berjudul Peresemian Pameran karya Hendra Gunawan. Terlihat suasana pembukaan pameran yang dihadiri oleh seniman yang berpameran, pejabat yang merangkap kolektor, birokrat, seniman lain yang berkunjung, dan masyarakat yang ramai. Ucok mengatakan bahwa pada masa itu, banyak karya seniman yang dijadikan koleksi pejabat dan dipajang di tempat kerja mereka. Tak heran jika di lukisan itu, seniman dan pejabat terlihat dekat.

Pembukaan Pameran, Hendra Gunawan (1980)

Pembukaan Pameran, Hendra Gunawan (1980)

Lukisan ketiga tak kalah menarik. Meski lukisannya juga dibuat pada periode ‘80-an, medan seni rupa baru sudah terlihat lebih kompleks. “Ini medan tarung di Orba, rumit, dan penuh intrik,” kata Ucok. Menurutnya, lukisan Semsar Siahaan berjudul Olympia, Identity with Mother and Child ini mengkritisi pariwisata di Indonesia. Subjek yang ada di dalam medan lebih ramai: ada pengusaha yang digambarkan berdasi, birokrat yang digambarkan sebagai kepala adat, seniman atau budaya Indonesia yang digambarkan sebagai penari Bali, perempuan telanjang yang asyik berbaring di ranjang yang menggambarkan konsumer, eksotisme yang disimbolkan dengan es batok kelapa muda, globalisasi dan budaya barat yang terlihat dari bahan material ranjang si konsumer, militer yang digambarkan dengan rupa anjing, dan masyarakat yang ramai di luar kelambu.

Olympia identity with mother and child, Semsar Siahaan (1987)

Olympia identity with mother and child, Semsar Siahaan (1987)

Medan seni yang dimaksud Ucok sebetulnya memiliki sebutan lain, seperti arena, gelanggang, atau yang dinamakan Jim Supangkat sebagai Art World. Dengan begitu banyaknya nama, Ucok yang seorang pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB dan tengah melakukan penelitian mengenai sejarah seni rupa modern Indonesia menyebutnya sebagai ekosistem. Ekosistem mikro adalah lingkungan yang mempengaruhi seniman secara langsung, seperti sekolah seni, institusi museum, kolektor, kritikus, dan galeri seni. Sementara, ekosistem makro adalah lingkungan tempat seniman hidup, seperti keadaan sosial, politik, ekonomi, hingga ideologi.

Belum selesai saya iseng membayangkan para penggemar selfie di medan seni hari ini, Ucok sudah menggiring saya dan peserta ke imajinasi yang lain. Kali ini, ia mengajak untuk membayangkan wacana pada masa Orde Baru yang membagi identitas antara Timur dan Barat. “Ayo kita buka peta. Barat itu sebenarnya di mana?” Katanya sambil menayangkan peta dunia.

“Di mana seni modern pertama kali lahir? Di bagian Barat sebelah mana? Tidak semua Barat bahkan kenal seni rupa,” ujarnya lagi. Ia kemudian menunjuk lokasi Paris sebagai tempat kelahiran. Dari Paris, seni rupa modern berkembang ke New York.

“Sama di sini,” katanya sambil memindahkan slide ke gambar peta New York, “jangan dipaksa semua ada seni di situ. New York mananya? Di Bronx gak mungkin ada, ini adanya di Manhattan.” Dia mengajak peserta untuk menganalogikan landscape Manhattan dengan Jakarta. Ada daerah yang mirip Kemang, Tebet, sampai downtown yang dianalogikan sebagai Sudirman Central Business District. “Di situ orang biasanya beli karya seni mahal, tapi medannya gak begitu besar.” Ucok membawakan penjelasannya dengan jenaka, hingga membuat peserta terpingkal.

Apa yang ingin disampaikan Ucok sebenarnya adalah kesenjangan medan—atau yang ia sebut ekosistem. Menurutnya, ada kerinduan dalam memformulasikan ciri khas seni rupa Indonesia yang tidak mempedulikan aspek geografis, sehingga formulanya jadi lemah. Misal, ada seniman yang tinggal di Bali dan berharap kolektor akan datang ‘menjemput’ karya dan dirinya. “Atau mereka nunggu diundang, kalau enggak, ngambek. Bilangnya ‘kurator gak peka sama kami di daerah!’ Pale lu!” ujar Ucok.

Ucok membuka slide peta Jawa Barat dan menunjuknya sebagai pusat seni rupa modern Indonesia. Di situ terlihat rel kereta yang membelah Kota Bandung jadi Utara dan Selatan. Berdasarkan pengalamannya di ITB, ia sering mendengar rasa iri hati dari kelompok seni di Selatan. Katanya, di ITB lebih enak, aksesnya mudah, sementara yang di Selatan sampai merasa tak pernah diliput oleh koran. Ucok merasa, dibandingkan harus menghampiri seniman yang medan seninya lemah, lebih baik mengundang mereka untuk berpameran di tempat yang medan seninya kuat.

Selain perkembangan medan seni, Ucok juga menceritakan ramainya redefinisi seni pada masa Orde Baru. Hadirnya seni rupa konseptual menjadikan image mulai diabaikan. Gagasan atau konsep sudah bisa menjadi karya seni. Seperti karya (alm.) Priyanto Sunarto, Hak Azasi Pasir yang menceritakan tentang pasir pada kaca yang disablon dan menutupi kotak yang berisi pasir, di situ gagasan sudah menjadi seni. “Sayang gak dikoleksi sama Galnas, kalau mereka pinter harusnya dikoleksi,” kata Ucok yang lagi-lagi menundang tawa para peserta di Galnas itu. Ucok bahkan seolah berharap pihak pengurus Galnas mendengar sindirannya.

Ada juga seni rupa penyadaran yang dilakukan oleh Moelyono ketika dirinya ditolak studio seni lukis di Institut Seni Rupa Indonesia (ISI) Yogyakarta. Apa yang dipresentasikan Moelyono saat itu memang tak terlihat seperti seni ‘lukis,’ ia menggelar banyaknya tikar di lapangan dengan batu di atasnya dan berbagai instalasi.

Meski saya tak sepenuhnya menangkap nama-nama yang disebutkan Ucok, melihat presentasinya menyadarkan saya atas banyaknya ‘kebaruan’ seni rupa saat Orde Baru. Seperti kejadian pemajangan karya di atas Planetarium yang membuat publik heboh dan mengundang petugas pemadam kebakaran untuk menurunkan objek. Kegiatan berpameran yang di luar dugaan seperti itu memang belum pernah saya lihat di waktu-waktu sekarang. Kalau kata Ucok, seniman sekarang justru malah tertib lagi, santun-santun karena tidak terlihat membuat gerakan mencengangkan dan cenderung main aman di galeri.

Hal lain yang menarik adalah pernyataan Ucok bahwa seniman ‘jaman dulu’ tidak ada yang berbohong. Ia menampilkan Soedjojono dengan kredonya yang berbunyi “kebenaran nomor satu, baru kebagusan.” Soedjojono sangat patuh pada realitas, lewat lukisannya kita bisa melihat gambaran historis. Baik situasi jalanan, gedung, hingga fesyen ia gambarkan sesuai dengan kondisi zaman. Ucok memperlihatkan lukisan dan foto dokumentasi pada zaman yang sama. “Yang penting bener dulu, gak ngarang,” katanya. Sementara, yang ia lihat sekarang, anak muda cenderung memakai bahasa simbolis yang ada di angan-angan. “Ada krisis dalam presentasi realitas.”

Dinda Larasati
Dinda Larasati tengah menempuh pendidikan sarjana di jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI, peminatan Kajian Media. Kajiannya cenderung berkisar pada tema industri budaya, komunikasi politik, gerakan sosial, dan pemanfaatan media baru. Dinda juga merupakan Pemimpin Umum Pers Suara Mahasiswa UI dan Pendiri Taman Baca Bulian. Beberapa puisi dan prosanya telah dipublikasikan melalui jurnal sastra terbitan The Murmur House, Majalah Cobra, dan zine lokal. Selain menulis, Dinda juga membuat karya seni, salah satunya muncul di pameran kolektif Buka Warung di RURU Gallery (2015).