Koor

Koor

Koor

15 menit
Performans
Indonesia, 2015

Minggu, 14 Juni 2015
19.30 WIB di Galeri Nasional Indonesia

Di setiap masa, seorang pemimpin selalu memiliki lagu-lagu pujian yang khusus diciptakan untuknya. Lagu yang menyerukan jasa-jasanya terhadap negara, yang biasanya dinyanyikan oleh biduan/penyanyi, kelompok musik, atau paduan suara. Lagu menjadi salah satu media propaganda paling popular yang sering digunakan sebuah rezim. Bahkan, sebuah rezim bisa melahirkan sosok biduan dan penyanyi yang identik dengan periode kekuasaannya.

Cut and Rescue mencoba merespon ranah tersebut dengan menghadirkan kembali kelompok paduan suara yang membawakan lagu-lagu pujian untuk sang Bapak. Aksi performans ini direka agar lebih interaktif. Cut and Rescue membuat buku saku berisi lirik lagu untuk dibagikan kepada seluruh pengunjung, dengan harapan para pengunjung tersebut akan ikut bernyanyi bersama.

Cut and Rescue menghadirkan kembali sesuatu yang pernah populer di masanya.  Tidak sekadar meromantisir kejayaan suatu masa. Karya ini justru akan bermain dalam situasi terkini, di sini, ingatan-ingatan itu masih melekat kuat. Namun apa yang membedakan antara paduan suara versi Cut and Rescue dengan paduan suara yang dulu menjadi populer dan menjadi pemandangan sehari-hari masyarakat di zaman Orde Baru? ‘Nada ganjil’ akan dihadirkan di antara alunan suara yang ritmis.

Cut and Rescue

Beranggotakan seniman muda
ibukota dengan ragam latar artistik; Jah Ipul, Gooodit,
Acip Das, Mario, dan Acan. Mereka banyak membuat
karya kolaborasi multimedia mulai dari instalasi,
fotografi, video, komik, mixtape, dan appropriation
art. Tahun 2014, mereka menggelar berpameran
tunggal Kesedihan yang dikuratori oleh Iswanto
Hartono. Sebagai seniman individu, masing-masing
anggota juga aktif terlibat dalam berbagai pameran
yang diselenggarakan di Indonesia maupun
internasional.