Light

Light

Light

Video kanal tunggal
4’ 19”
2015

“Menelusuri hubungan energi dan makna kehidupan dari beragam perspektif atau sudut pandang. Menghapus batas batas konvensional yang memisah-misah, lalu meleburnya. Menemukan titik temu dan persamaan. Sehingga yang dianggap terpisah atau berbeda di dalam konsep dan pengertian yang abstrak, kini bisa dipertemukan—juga dalam tataran kongkret. Sehingga kecenderungan memandang realitas secara ‘men-dua’ bisa diintegrasikan.” – Arahmaiani

Satu per satu wajah-wajah muncul dari balik kegelapan yang diterangi cahaya lilin. Masingmasing mengucapkan sepatah kata saat api lilin padam. Light, mencoba membawa kembali ingatan pada kisah-kisah di masa lalu. Setidaknya, ada delapan kata kunci yang diucapkan oleh sembilan orang; conscience, coffin, earth, hearth, thief, courage, prayer, dan God. Dua di antaranya mengucapkan kata yang sama, yaitu heart, yang dimunculkan di antara kata earth dan courage.

Sejak tahun ‘80-an, Arahmaiani menggunakan tubuhnya sebagai medium. Beberapa performansnya juga telah di-coding ke dalam video. Ada yang berupa dokumentasi performans yang menempatkan video sebagai medium sekunder, ada pula karya video performansnya yang dengan tegas menjadikan video sebagai medium primer yang juga terlihat dalam karya Lights.

Arahmaiani
Semasa kuliah di Institut Teknologi Bandung dikenal sebagai seniman performance yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan Orde Baru. Meneruskan studi seni lukis di Academie voor Beeldende Kunst, Enschede, Belanda (1991-1992). Ia banyak membuat karya performance baik yang dipresentasikan secara langsung (live) maupun dikonstruksi dengan video. Karya-karyanya kerap dipamerkan di perhelatan seni rupa kontemporer antara lain di Global Feminism di Brooklyn Museum, New York, AS (2007), Asia Pacific Triennale di Brisbane (1996), Havana Biennale di Cuba (1997), Biennale de Lyon (2000), Sao Paulo Biennale di Brasil (2002) dan Gwangju Biennale di Korea (2002).