Menggali Buaya

Menggali Buaya

Menggali Buaya

7 menit
Video Kanal Tunggal
Indonesia, 2015

Salah satu dampak terbesar dari runtuhnya rezim Orde Baru adalah ikut memudarnya jejak-jejak kekuasaan yang terdapat pada monumen-monumen yang dibangun sebagai lambang simbolis kekuasaan negara. Monumen-monumen itu perlahan mulai ditinggalkan, kepopulerannya memudar, dan perlahan ia menjadi sebuah bangunan yang kehilangan kuasanya.

Apa yang bisa digali dari sebuah monumen yang dibangun? Apa yang bisa dilihat dari tekstur-tekstur sejarah yang disusun dalam imajinasi kekerasan kemanusiaan? Diorama tentang peristiwa-peristiwa yang melekat lebih dari 30 tahun, di kepala orang-orang yang tidak bisa lagi menentukan kebenaran. Ia telah menjadi kebenaran ilusif dan tidak terbantahkan hingga saat ini. Tak satupun dari imagi-imagi itu mampu dibaca dan dikritik kembali menjadi sebuah pernyataan kebenaran yang lain di luar kebenaran yang dibangun oleh Orde Baru.

Video esai ini menggambarkan bagaimana Orba merepresentasikan peristiwa berdarah tahun ’65. Lubang buaya adalah lubang gela yang tidak pernah bisa membuka kebenaran. Namun, narasi yang dibangun berupa monumen, relief, diorama, dan situsnya, menggambarkan bahwa peristiwa yang terjadi adalah riil. Peristiwa tentang bagaimana sebuah ideologi bersama dikhianati dianggap benar.

Lubang Buaya adalah salah satu strategi komunikasi Orba yang bagus, sekaligus menyesatkan. Kebenaran yang subjektif, dikomunikasikan menjadi kebenaran komunal yang dihadirkan  dalam bentukan imaji dan visualisasi. Pasca runtuhnya Orde Baru, kebenaran mempunyai banyak versi, sedangkan lubang itu tetap bungkam. Sediam-diamnya.

Hafiz
Hafiz. Berlatar pendidikan seni murni dan desain di Institut Kesenian Jakarta. Ia adalah salah seorang pendiri ruangrupa (2000) dan Forum Lenteng (2003). Sehari-harinya bekerja sebagai Direktur Artistik ARKIPEL Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival dan menjadi Ketua Komite Seni Rupa, Dewan Kesenian Jakarta sejak tahun 2012. Tahun 2013, ia menjadi Direktur Artistik Jakarta Biennale XV-SIASAT. Selain sebagai seniman aktif di ranah seni rupa yang bekerja secara individu maupun kolaboratif, Hafiz juga terlibat dalam beberapa perhelatan sinema internasional. Tahun 2005, filmnya Alam: Syuhada menjadi salah satu nominasi untuk kompetisi internasional Festival Film Oberhausen