Nalareksa 0.7

Nalareksa 0.7

Nalareksa 0.7

Patung bunyi
2008-2015

Sejak 2008, Andreas Siagian mulai mengembangkan seri Nalareksa-nya yang didasarkan atas penelitian lapangan Prof. Ir. Harjoso Projopangarso dengan nama penelitian yang sama, Nalareksa. Nama Nalareksa sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno, kata Nala berarti ‘orang-orang terkasih’ dan kata Reksa berarti ‘bergizi’. Alat sederhana Nalareksa ini digunakan untuk menganalisa polusi udara khususnya dari zat karbondioksida (CO2) dengan menggunakan air sebagai medium.

Instalasi Nalareksa 0.7 mencoba mengembalikan esensi dari sebuah ide sederhana yang dikembangkan oleh Prof. Ir. Hardjoso Projopangarso yaitu reaksi yang terjadi antara air dan udara melalui gesekan langsung antara keduanya. Instalasi ini menampilkan komposisi bunyi yang tercipta dari gesekan antara air dan udara. Karya instalasi dalam seri ini juga mengambil etos dari figur Prof. Ir. Hardjoso Projopangarso yang seluruh ciptaannya selalu mengutamakan sains dan teknologi. Penerapan sains untuk teknologi sesederhana mungkin dan dapat diakses oleh masyarakat. Secara teknis, Nalareksa 0.7 menggunakan teknik penguatan dan penggabungan bunyi sederhana yang memanfaatkan penggunaan teknologi elektronik analog yang berkembang pada ‘70-80-an. Teknologi ini hingga sekarang dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat di Indonesia

Andreas Siagian

Seniman lintas disiplin dengan latar belakang pendidikan formal sebagai insinyur teknik sipil lulusan Atmajaya Yogyakarta. Mempelajari bahasa pemrograman dan membuat piranti lunak yang berguna dalam perhitungan dan perencanaan desain geometrik jalan raya. Praktiknya berkembang seiring waktu mulai dari pemrograman kreatif dalam citra dan bunyi, penciptaan elektronik berbasis swakriya, pembuatan patung bunyi dan instalasi, hingga instrumen bunyi. Salah satu pendiri dari beberapa kelompok inisiatif seperti breakcore_LABS, urbancult.net, dan lifepatch-sebuah inisiatif warga dalam seni, sains dan teknologi. Bersama jaringan Hackteria, dia merupakan co-director HackteriaLab 2014 di Yogyakarta.