Once Upon a Time: Indonesia 1996

Once Upon a Time: Indonesia 1996

Once Upon a Time: Indonesia 1996

Cetak digital
Indonesia, 2015

Once Upon A Time: Indonesia 1966, mencoba merespon sebuah peristiwa kemunculan Orba, yang dikenal dengan istilah angkatan ‘66. Gerakan yang dikenal sebagai awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional. Gerakan ini berhasil memaksa Presiden Soekarno untuk memandatkan kekuasaan kepada rakyat. Mandat ini kemudian muncul dalam bentuk SUPERSEMAR yang konon diberikan kepada penerima mandat, yaitu Soeharto. Angkatan ‘66 pun mendapat ‘hadiah’ dari pemerintah Orba, yaitu banyak di antara aktivis ‘66 yang duduk dalam kabinet Orba rezim yang berkuasa selama hampir 32 tahun lebih di Indonesia. Lamanya masa rezim tersebut berkuasa tentu sangat mempengaruhi arah Indonesia, khususnya, pembentukan sejarah tunggal bangsa.

The Secret Agents mencoba melihat kemungkinan sejarah lain yang muncul di tahun 1966. Mereka menelusuri arsip berupa foto dan teks yang mereka dapatkan dari buku-buku pelajaran, majalah dan surat kabar terkait peristiwa kebudayaan, gaya hidup, dan masyarakat urban. Hal yang menarik dari karya Once Upon A Time: Indonesia 1966 adalah penghadiran sejarah-sejarah kecil atau sejarah pinggiran yang mungkin tidak diketahui ke permukaan oleh perangkat informasi (media) yang digunakan Orba. Mereka mengkliping hasil temuan berupa foto-foto tersebut secara digital, kemudian mereka “ganggu” dan membahasakannya kembali dengan gaya bertutur khas The Secret Agent.

The Secret Agents
Banyak membuat karya-karya instalasi dan interaktif berbasis fotografi yang banyak membicarakan persoalan ruang dan memori. Duo ini adalah Indra Ameng (1974) dan Keke Tumbuan (1978). Karyanya The Secret Lobby menjadi bagian dari Jakarta Biennale XIII-ARENA. Mereka juga aktif memberikan workshop bersama mahasiswa. Tahun 2010, terlibat dalam proyek fotografi Ultra Vocation yang diselenggarakan pada perhelatan dua tahunan Jakarta 320 Celcius. Proyek ini mencoba mengeksplorasi fungsi dan medium fotografi untuk merekam kenyataan sekaligus ketidaknyataan. Duo yang mengambil namanya dari judul novel fiksi detektif karya Joseph Conrad ini juga aktif menjadi kurator performans live musik Superbad di Jakarta.