Open Lab

OPEN LAB

Open Lab bertujuan untuk mengeksplorasi dan menampilkan hubungan antara media, teknologi dan politik pangan. Open Lab mengusulkan pendekatan laboratorium yang kolaboratif untuk produksi artistik yang dilakukan oleh seniman, ilmuwan, praktisi berbagai ilmu pengetahuan dari latar belakang yang berbeda-beda ke dalam satu upaya bersama. Sebagai laboratorium terbuka yang dicoba dapat difungsikan sebagai tempat (place) dan ruang (space) pertemuan beragam latar belakang pengetahuan, Open Lab mencoba mengajak para partisipan dan juga masyarakat untuk bekerja bersama berbagi pengetahuan dan pengalamannya untuk mendukung kehadiran Open Lab itu sendiri, baik secara infrastruktur maupun gagasan. Open Lab digagas oleh OK. Pangan OK. Video – Indonesia Media Arts Festival sebagai platform berkelanjutan yang dapat dikembangkan setelah festival. Program Open Lab terbagi menjadi dua; pertama, residensi yang membutuhkan kehadiran sik; kedua residensi yang bersifat virtual.

OPEN LAB - Residensi Virtual

Open Lab Residensi Virtual merupakan komponen “non sik” dari Open Lab OK. Video yang meluas ke sisi virtual dari tema dan konteks festival tahun ini. Residensi Virtual merupakan satu upaya untuk mempertemukan beberapa seniman internasional dengan seniman Indonesia dan kolaborator –terdiri dari komunitas, organisasi, dan peneliti secara virtual. Dari residensi ini diharapkan menghasilkan solusi dan purwarupa terkait isu pangan yang sedang dihadapi dan bisa diterapkan langsung dalam konteks festival. Undangan program residensi virtual yang dibuka untuk umum ini telah menerima dua belas proposal yang berasal dari berbagai negara, yaitu Filipina, Thailand, Singapura, Islandia Baru, Brazil, Polandia, Afrika Selatan, Rumania, dan Indonesia. Peserta Open Lab – Residensi Virtual terpilih akan bekerja secara virtual mulai Agustus-September 2017 dan presentasi akhir hasil residensi di bulan Oktober 2017 yang direncanakan akan berlangsung pada perhelatan Festival Arsip yang diselenggarakan oleh Indonesia Visual Art Archive. Program ini bekerjasama dengan Forum Lenteng, Indonesia Visual Art Archive, dan pad.ma.

OPEN LAB

Open Lab Residensi Fisik menjadi salah satu cara bagi platform ini untuk melihat sejauh mana kehadiran dan kerjasama sik antara seniman dan praktisi ilmu pengetahuan lainnya dalam merealisasikan dan berspekulasi artistik pada 9 proyek seni. Proyek seni ini berlangsung Juni-November 2017.

Arne Hendriks & Kamil Muhammad – Shrinking Land for Shrinking Man
Pada program Open Lab, Arne Hendricks berkolaborasi dengan Kamil Muhammad, seorang arsitek muda yang tertarik dengan isu kampung urban, untuk bekerja di Kampung Lodan, bantaran Kali Ciliwung, Jakarta.

 

Bakudapan, Luinambi Vesiano, Kiper (Kiprah Perempuan), dan Dialita – The Cookbook Project
The Cookbook Project adalah buku berisi kumpulan resep yang disusun berdasarkan pengalaman para korban tragedi politik Indonesia pada tahun 1965. Resep tersebut disusun berdasarkan kisah orang-orang yang selamat selama masa penahanannya. Dengan demikian, dapur dan makanan menjadi perspektif untuk menangkap isu-isu politik yang lebih luas yang terjadi pada saat itu.

 

Cooking Sections & Rahung Nasution – The Empire Remains Performative Dinner
Dengan ribuan koleksi resep makanan, praktik memasak, dan bahan makanan dari berbagai daerah di Indonesia, susah menentukan makanan yang paling representatif sebagai makanan Indonesia. Apalagi membuat kesepatakan tunggal, apa itu “makanan Indonesia”. Tentunya, hal ini mencerminkan ragamnya suku di Indonesia. Gagasan ini menjadi titik tolak Cooking Sections dalam melakukan kolaborasi dengan Rahung Nasution, yang dua tahun belakangan rutin mungunjungi balik Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, untuk merekam kehidupan suku Dayak Iban.

 

FORKS – Purusha Cooperative Research & @kantinyangkemaren – In Money We (Don’t) Trust: Closed Market Economy System and Complementary Currency
Mungkinkah kita bisa makan tanpa uang? Imajinasi ini dicoba direalisasikan oleh FORKS yang bekerjasama dengan warung makan @kantinyangkemaren yang berlokasi di Gudang Sarinah Ekosistem. Bagaimana kemudian mereka mencoba membaca setiap peluang yang mungkin dihadirkan dan sistem transaksi yang bisa diciptakan dari imajinasi tersebut.

 

Julian ‘Togar’ Abraham – Diabethanol
“Keberlanjutan” atau sustainablity adalah salah satu benang merah dalam karya-karya Togar. Untuk residensi Open Lab OK. Pangan 2017, ia kembali mengangkat tema keberlanjutan. Togar menggarap sebuah produk yang ia namakan Diabethanol, yang berasal dari perpaduan kata “diabetes” dan “bioethanol”. Kedua hal tersebut sangat berbeda, namun memiliki kesamaan elemen energi, atau gula.

Mark Sanchez & Minerva Co-Lab – Sanity Mapping
Dalam Sanity Mapping (pemetaan kesehatan jiwa), Mark Sanchez mencomot nama-nama yang familiar di telinganya. Lalu Sanchez mempelajari klaim, dugaan, serta pendapat tentang tokoh-tokoh tersebut lewat penelusuran di internet. Alat identifikasi yang digunakan Sanchez adalah ICD-10, yaitu revisi ke-10 dari pedoman klasifikasi penyakit dan masalah kesehatan yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO). Sementara itu, Minerva Co-Lab—kolaborator yang berpasangan dengan Sanchez—membuat penelitian ilmiah tentang kecemasan dan depresi yang dimiliki oleh generasi milenial. Data mentah yang dikumpulkan Minerva Co.Lab akan menjadi titik berangkat Mark Sanchez memulai proyek Sanity Mapping di OK. Pangan 2017.

 

PPPOOOLLL studio – Laboratorium Terbuka
OK. Pangan OK. Video – Indonesia Media Arts Festival 2017 menantang Ppooolll (Kamil & Brahms) untuk mengkongkritkan gagasan laboratorium terbuka ke dalam bentuk bangunan sik yang dapat digunakan sebagai tempat (place) dan ruang (space). Ppooolll melihat Open Lab sebagai sebuah praktik tentang batas-ambigu, karena Open Lab adalah ruang kerja seniman yang terbuka untuk perhatian dan intervensi dari publik. Ppooolll juga mengajak masyarakat untuk menyumbangkan berbagai tanaman, baik tanaman yang bisa dikonsumsi maupun tidak sebagai dinding dari laboratorium terbuka yang mereka bangun.

 

Syaiful Tepu Garibaldi & Sita Rose Nandiasa – Life Cycle
Proyek residensi Open Lab yang dilakukan Syaiful ‘Tepu’ Garibaldi di OK. Pangan 2017 memperbincangkan tentang tubuh sebagai entitas biologis. Konteks biologis tersebut, tentu membawa kita pada pemaknaan terhadap tubuh bukan hanya sebagai sesuatu yang hidup, namun juga bagaimana tubuh berproses ketika dalam paska kehidupannya. Lewat karya berjudul BaraTurtu Kriklos, Tepu ingin melihat persoalan makan dan memakan dari sudut pandang lain. Tidak lagi melulu manusia sebagai subjek utama tapi kita diajak melihat kerja makhluk pengurai (decomposer) yang memakan tubuh manusia setelah mati. Untuk proyek ini, Tepu akan dibimbing oleh seorang dokter gigi forensik, Sita Nandiasa.

 

Warung Ramah & Lintang Panglipuran – Legume Research dan Warung Ramah Installation
Dalam proyek Legume Research, Warung Ramah bersama Lintang Panglipuran melakukan riset singkat tentang kacang-kacangan, atau leguminoaseae. Dalam proyek ini, Warung Ramah mengumpulkan pengetahuan lokal petani tradisional dalam menjaga keseimbangan tanah dengan cara menanam kacang-kacangan setelah panen padi. Warung Ramah juga akan membuat konsep co-gardening space yang diadopsi dari cara kaum urban berbagi ruang di perkotaan. Isu karya ini adalah akses terhadap lahan bercocok tanam di Jakarta, serta rantai distribusi makanan di perkotaan yang bergantung kepada pasokan pangan dari pedesaan.