SYAIFUL “TEPU” GARIBALDI & SITA ROSE NANDIASA

SYAIFUL “TEPU” GARIBALDI & SITA ROSE NANDIASA
SYAIFUL “TEPU” GARIBALDI & SITA ROSE NANDIASA
BARATURTU KRIKLOS (LIFE CYCLE PROJECT)
2017
Sampel badan manusia, video, plaster, jamur
Dimensi bervariasi, tayangan video langsung

 

Syaiful “Tepu” Garibaldi (1985, Indonesia)
Syaiful “Tepu” Garibaldi adalah lulusan Seni Grafis ITB pada tahun 2010.
Sejak tujuh tahun lalu, Tepu mulai tertarik kepada decomposer atau makhluk pengurai. Belakangan, karya Tepu sering bermain dengan decomposer seperti bakteri, cacing, atau jamur. Tepu juga bereksperimen dengan bakteri untuk membuat alfabet “Bahasa Terhah”—bahasa ciptaannya sendiri—dan menciptakan aksen bahasa tersebut dengan medium spora yang jatuh dari payung jamur.
Tepu mendapat penghargaan Tokoh Seni Pilihan Tempo di 2016, serta Young Artist Award pada ArtJog #10 di 2017.

Sita Rose Nandiasa (1989, Indonesia)
Sita menempuh pendidikan Profesi Kedokteran Gigi di Universitas Indonesia pada tahun 2007, kemudian melanjutkan pendidikan Magister Kedokteran Gigi Forensik di Universitas Indonesia pada tahun 2013.
Sita pernah mengikuti seminar dan kegiatan bertema forensik, termasuk operasi DVI AirAsia QZ8501 tahun 2015. Ia juga anggota Asia Pacific Forensic Odontologists (APFO)

Rumah Sakit Melinda (2004, Indonesia)
Rumah Sakit Melinda berlokasi di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Mereka dilengkapi dengan fasilitas dan layanan berstandar internasional, serta menghadirkan suasana dengan sentuhan seni.

Dalam karya BaraTurtu Kriklos, objek kajian Tepu bukan manusia. Alih-alih, para pemirsa diajak melihat kerja makhluk pengurai yang memakan tubuh manusia setelah kehidupan meninggalkan tubuh.

Ditemani seorang ahli forensik gigi dan bekerjasama dengan Rumah Sakit Melinda di Bandung, Tepu menjelajahi kemungkinan melihat langsung proses pembusukan manusia. Ia akan menangkap keindahan visual tumbuh kembang bakteri dan makhluk pengurai lain dalam skala mikroskopik, lalu menyiarkannya secara langsung ke ruang pamer.

Live streaming video ini berdampingan dengan instalasi jamur tiram yang akan terus tumbuh dan mati selama pameran berlangsung. Instalasi ini ingin menunjukan kerja makhluk pengurai, tanpa bantuan mikroskop.

Tepu sadar, ini adalah proyek yang sulit dan riskan, secara teknis maupun etis, sehingga apa yang akan tampil di ruang pamer tidak bisa ditebak.