The Indonesian Pavilion—The Road to Dubai

The Indonesian Pavilion—The Road to Dubai

The Indonesian Pavilion—The Road to Dubai

Instalasi Video
Indonesia, 2015

Pada dekade ’70-an, sekelompok seniman dengan gairah berkesenian yang unik terbentuk. Kelompok yang menamakan dirinya Decenta ini juga mensintesakan prinsip seni rupa modern dan tradisi. Mereka juga membaurkan dan menggabungkan prinsip-prinsip seni rupa dan desain. Karya seni rupa, rancang grafis, elemen estetik, monumen dan lain-lain dicari dan dikonsumsi. Terutama oleh golongan kelas menengah Indonesia yang saat itu sedang tumbuh perekonomiannya pasca boom minyak dan masifnya investasi-investasi asing di Indonesia. Kelompok ini pun menciptakan sejumlah elemen-elemen estetik di beberapa gedung-gedung penting, seperti; Gedung Convention Hall, Ruang Sidang Gedung DPA, Komplek Makam Presiden Sukarno, Kompleks Makam Keluarga Presiden Soeharto, dan gedung-gedung milik pemerintah lainnya. Negara akhirnya memanfaatkan modal kultural dan modal simbolik Decenta untuk kepentingan pelembagaan identitas keindonesiaan.

Berawal dari penelitian Chabib Duta Hapsoro tentang kelompok Studio Decenta yang muncul tahun ’70-an, karya The Indonesian Pavilion—The Road to Dubai yang dikerjakannya secara kolaboratif bersama M.R. Adytama Pranada, mencoba mengimajinasikan bagaimana seandainya identitas keindonesiaan yang mencampur unsur moderen dan tradisi yang lekat pada karya-karya seni rupa dan desain Decenta digunakan di Paviliun Indonesia di Expo Dubai 2020 mendatang.

Chabib Duta Hapsoro
Kurator dan penulis, bekerja untuk Selasar Sunaryo Art Space (SSAS), Bandung. Tahun 2014 mengkuratori Mochtar Apin: Sang Petualang dari Gelanggang di Selasar Sunaryo Art Space. Di tahun yang sama ia menyelesaikan pendidikan magisternya di Institut Teknologi Bandung.