Tuhan, Imajinasi Manusia, dan Kebebasan Mencipta

Tuhan, Imajinasi Manusia, dan Kebebasan Mencipta

Tuhan, Imajinasi Manusia, dan Kebebasan Mencipta

Apakah unsur yang membedakan teks sastra dengan teks yang lain? Pada satu sisi, karya sastra terikat pada konvensi, tetapi di lain pihak ada kebebasan atau kelonggaran untuk bermain dengan konvensi itu, bahkan menentangnya. Pertanyaan yang muncul dari purbakala hingga kini tersebut, barangkali mudah saja jawabannya. Pada teks sastra, dalam hal ini prosa, kita akan menjumpai unsur-unsur instrinsik dan ekstrinsik di dalamnya: alur, tokoh dan penokohan, maupun latar. Sebuah karya sastra, meski di dalamnya mengandung hal-hal yang bersifat fakta, pada dasarnya tetap merupakan hasil imajinasi atau rekaan si pengarang. Maka, kita dapat mengatakan bahwa si pengarang adalah Tuhan bagi tokoh-tokoh dalam cerita yang diciptanya.

Karya “Sidang Imajinasi” yang berada di Gedung C Galeri Nasional Indonesia pada perhelatan OK. Video kali ini membawa kita pada Heboh Sastra 1968. Dua tahun sebelumnya, karya berupa instalasi suara dan teks bertinta ultraviolet ini telah dipamerkan sebagai bagian dari salah satu proyek penerima program Hibah Karya! di Galeri Cemara 6. Proyek itu diberi judul “Sidang Hans Bague” diluncurkan oleh Jaringan Arsip Budaya Nusantara, dan melibatkan beberapa seniman di antaranya Adel Pasha, Ajeng Nurul Aini, Andang Kelana, Bagasworo Aryaningtyas, Fuad Fauji, Gelar Agryano Soemantri, Mahardika Yudha, Muhammad Fauzi, Otty Widasari, dan Yoyo Wardoyo.

Teks-teks yang telah dipilih untuk kemudian ditampilkan kembali mengingatkan kita pada arsip-arsip seni yang tersimpan. Para seniman berusaha membaca ulang dan menghidupkan kembali arsip tersebut. Selain mengedukasi masyarakat, “Sidang Imajinasi” berusaha menawarkan kepada masyarakat sebuah kemungkinan baru untuk memanfaatkan arsip yang tersimpan di berbagai lembaga pengarsipan di Indonesia.

Kali ini, “Sidang Imajinasi” hadir berupa rekaman suara persidangan H.B. Jassin dan potongan-potongan surat kabar serta majalah yang memuat berita Heboh Sastra 1968 itu dalam teks ultraviolet yang dipasang di dinding. Beberapa teks yang menjadi pilihan berjudul “Yang Diadili Bukan H.B. Jassin tapi Imajinasi”, “Jaksa Tuduh H.B. Jassin Bersalah”, “Hukuman Percobaan bagi H.B. Jassin”, “Perlukah Undang-undang Anti Penistaan Tuhan”, dan “Wawancara dengan Ki Pandji Kusmin”.

Karya ini menjadi pengingat bahwa untuk pertama kalinya sebuah sidang digelar, yang diadili adalah sebuah karya sastra karena dianggap menghina umat Islam dan nabi Muhammad. Dengan judul “Langit Makin Mendung”, cerpen itu ditulis oleh seseorang bernama pena Ki Pandji Kusmin. Vonis penjara selama 1 tahun dan 2 tahun percobaan pada akhirnya dijatuhkan kepada H.B. Jassin selaku pimpinan redaksi majalah Sastra yang dianggap bertanggung jawab karena telah memuat cerpen tersebut. Peristiwa itu tercatat dalam sejarah kesusastraan Indonesia.

Judul tulisan ini saya ambil dari tulisan H.B. Jassin di Horison, tahun II No.11 Nov 1968. Saya kira, judul dan tulisannya masih sangat relevan untuk kita kaitkan dengan konteks saat itu ketika Orba berkuasa serta sekarang ketika dia sudah tumbang. Pengadilan sastra atau imajinasi tersebut merepresentasikan cara berpikir masyarakat di bawah rezim Orba yang berkuasa saat itu. Masyarakat bertindak, berpikir dengan cara yang pragmatis, sangat jauh dari kata kritis. Membela agamanya sedemikian rupa, dan lupa pada hakekat dari agama itu sendiri.

Tulisan H.B. Jassin mengingatkan kita bahwa manusia tidak dapat menyelami pikiran Tuhan. Manusia adalah makhluk serba terbatas jika dibandingkan dengan-Nya. Maka, adalah tindakan yang sangat lucu, ketika kita baca hari ini, ada sebuah persidangan karena sebuah karya sastra. Dalam cerpennya pun tidak ada maksud penghinaan terhadap nabi Muhammad seperti yang dituduhkan. Cerpen tersebut berisi tentang kritik pada masa Gestapu (G 30 S) terhadap keadaan masyarakat yang mayoritas beragama Islam, namun menganut paham Nasakom.

Sastra adalah dunia rekaan, dan pengadilan atas nama imajinasi pada saat itu mengatakan bahwa yang diatur bukan hanya tingkah laku masyarakat, melainkan juga isi kepala, bahkan bacaan masyarakat. Barangkali kita juga ingat, ada beberapa buku, bahkan karya sastra, salah satunya karya-karya Pram yang dilarang untuk dimiliki atau dibaca. Pelarangan tersebut merupakan upaya mematikan pikiran-pikiran kritis masyarakat. Bahkan, orang-orang yang bergiat di Lekra pun ikut distigmatisasi dan dihabisi oleh rezim tersebut.

Agaknya menjadi menarik, jika kita mempertanyakan Tuhan, imajinasi manusia, dan kebebasan mencipta sekarang ini yang jauh lebih bebas daripada sebelumnya. Apakah kebebasan yang kita miliki, sudah kita gunakan semaksimal mungkin sehingga membawa dampat positif dan berguna bagi sekitar? Apakah kita menjadi semakin manusia karenanya?

 


Sumber:
https://kangpanut.wordpress.com/2007/11/20/langit-makin-mendung/
http://inspirasi.co/polemik_yang_melegenda/post/7/48/tuhan_imajinasi_manusia_dan_kebebasan_mencipta1_-_hb_jassin
http://arsipbudayanusantara.or.id/pages/warta_detail/55

Jenni Anggita

Lulus dari FIB UI, perempuan ini masih bergelut dalam dunia sastra dan seni. Di sela-sela waktunya dia menulis kritik sastra, seni rupa, dan budaya visual. Beberapa cerpennya telah dibukukan dalam antologi bersama. Selain mengajar, kini dia tengah berusaha merampungkan novelnya. Tulisan lainnya dapat dilihat di blognya atasenita.blogspot.com.