TVRI (Televisi Rakyat Indonesia)

TVRI (Televisi Rakyat Indonesia)

TVRI (Televisi Rakyat Indonesia)

Instalasi video lima kanal dan pemancar
Indonesia, 2011-2015

Salah satu hal yang berkontribusi mengikis kekuasaan pemerintah Orde Baru adalah berdirinya televisi swasta di awal ’90-an. Kehadiran saluran informasi di luar narasi resmi pemerintah ini telah membuka kemungkinan lahirnya perspektif lain melihat peristiwa. Namun, tetap pada koridor sentralisasi penyiaran terpusat (Jawa) yang membuat kebudayaan dan entitas lokal terpinggirkan oleh penetrasi ‘kebudayaan’ televisi swasta.

Kehadiran televisi komunitas membawa cerita lain dalam sejarah pertelevisian di Indonesia. Tahun 2002, Undang Undang Penyiaran lahir dan mengizinkan munculnya televisi komunitas yang dapat menempatkan warga komunitas sebagai ‘produser’ yang memiliki kuasa atas segala informasi dan hiburan yang dibutuhkan warga komunitas itu sendiri. Mencoba mengikis sentralisasi penyiaran (dari Jawa) dan kepemilikan melahirkan ‘kepemilikan-kepemilikan’ baru yang lahir dari warga.  Di sini, keberagaman kepemilikan dapat mendorong warga melakukan kontrol sendiri terhadap isi siaran yang ditangkap di televisinya.

Televisi Rakyat Indonesia (TVRI) menghadirkan beberapa program televisi yang diproduksi oleh JAFTV terkait siaran pembangunan desa yang di masa Orde Baru, sangat populer. Siaran pedesaan ala JAFTV mencoba melihat peran positif dari sebuah media, tidak hanya mendokumentasikan perkembangan masyarakat desa tetapi juga menjadi media untuk menemukan persoalan-persoalan desa. Siaran Televisi Rakyat Indonesia (TVRI) dapat ditangkap sejauh 2,5 kilometer dari ruang pameran.

Jatiwangi Art Factory
Tahun 2015 ini, JAF memutuskan isu tanah (Tahun Tanah) menjadi landasan dalam membuat proyek-proyek seni yang melibatan masyarakat. Sejak 10 tahun lalu, komunitas yang berdiri di desa Jatisura, Jatiwangi-Majalengka, Jawa Barat ini menggunakan seni sebagai jembatan dan alat pemberdayaan, penelitian, serta pengembangan desa. Selain membuat program yang rutin diselenggarakan di desa, JAF juga produktif membuat karya-karya multimedia dan terlibat di dalam perhelatan seni rupa, musik, performance, dan film baik nasional maupun internasional, dengan menghadirkan kesegaran sudut pandang dalam melihat persoalan desa dan hubungannya dengan masyarakat global.