Yang Berubah, Selain Rindu

Yang Berubah, Selain Rindu

Yang Berubah, Selain Rindu

Di dinding kedai yang saya pandangi saat ini, terdapat mural Presiden Indonesia dari masa ke masa. Soekarno tampil berkacamata dan tampak dandy, lalu di sebelahnya ada Soeharto. Ia memakai caping, melambaikan tangan dan tersenyum pongah, pada dadanya tertulis baris lirik lagu Padamu Negeri, dan dua penanda tahun yang ditulis dalam tinta merah darah: 1966, 1998.

Dalam 32 tahun di antara kedua penanda tersebut, Indonesia berubah total. Ada yang bilang kita dijajah lagi. Kita diajari untuk menjadi masyarakat yang pasif, tunduk, dan tak acuh. Ada yang bilang kita disejahterakan, sebelum pengayom yang dielu-elukan itu kita jatuhkan. Karena kita bebal, karena kita tidak tahu terima kasih. Merebaknya stiker “Piye, enak jamanku tho?” yang viral itu gejala dari persoalan yang lebih besar. Negara kita seolah-olah gamang akan langkah yang telah ditempuh.

Tapi, ini perdebatan siapa? Temanku Berkata, karya Ary “Jimged” Sendy untuk OK Video, merekam perspektif lain dari generasi yang ‘terjepit’. Ary mewawancarai ketiga temannya—semuanya berusia 24-27 tahun—dan menanyakan pendapat mereka mengenai keadaan Indonesia pada masa sekarang, dan pandangan mereka tentang nostalgia beberapa pihak akan masa Orde Baru. Ketiga kawan Ary ini berada dalam posisi yang sulit. Mereka memang lahir dan menghabiskan masa kecil di era Orde Baru. Namun, mereka terlalu muda untuk merasakan euforia Reformasi dan tak sempat membentuk perspektif yang konkrit tentang kehidupan di masa Orde Baru. Kenangan mereka seperti terdistorsi: seorang responden berujar bahwa kenangan akan Orde Baru yang paling lekang di ingatannya adalah parade tentara Soeharto di jalan raya, sementara responden lain menenang Orde Baru sebagai masa di mana “es teh cuma 50 perak, dan bakso harganya 150 Rupiah.”

Mereka termasuk generasi yang tanggung. Walau mereka masih mengingat penjarahan di 1998 dan pernak-pernik kehidupan Orde Baru, pada hakikatnya mereka adalah anak-anak pasca-Reformasi. Mereka memiliki posisi unik sebagai generasi pertama yang merasakan masuknya Internet dan keterbukaan informasi yang merebak setelah Reformasi. Pada saat bersamaan, keingintahuan mereka belum sempat dicuci habis secara sistematis oleh Orde Baru–yang keburu runtuh. “Dulu kita percaya isi buku pelajaran sekolah, karena kita diharuskan mendengarkan.” Kenang salah satu responden. “Kita baru mempertanyakan setelah SMP, kok rasanya banyak yang tidak ‘apa adanya’, ya?”

Walhasil, mereka menjadi generasi pertama yang benar-benar memiliki keinginan dan akses untuk membaca ulang narasi alternatif tentang Orde Baru. Bahwa es teh 50 perak dan bakso 150 perak itu mungkin ada karena hutang besar-besaran. Bahwa parade militer yang megah itu adalah simbol dari pemerintah represif yang keji. Bahwa rupanya banyak momen penting dalam sejarah Indonesia yang selama ini dianggap saklek–30 September 1965, Supersemar–tidak sepenuhnya benar. “Kami kaget, kecewa lah sama guru.” Terang mereka. “Kok bisa ya, mereka ngebohongin kita kayak gitu?” Di sinilah jurang antar generasi itu mulai terkuak. “Gue rasa mereka dibentuk jadi orang yang takut,” ucap salah seorang responden. Mirisnya, mereka pun bingung dengan masa depan yang sekarang mereka hadapi. Generasi sekarang, ucap mereka, lebih apatis dan oportunis, namun juga berani dan santai.

Dengan menyajikan perdebatan soal Reformasi tersebut dari sudut pandang generasi yang justru tidak terlibat sama sekali dalam Reformasi, Temanku Berkata mengingatkan saya bahwa titik penting sejarah tak hanya perlu dibahas dari sudut pandang mereka yang menjadi tokoh sejarah, namun juga mereka yang menikmati ekses-ekses dari sejarah. Ada peluang-peluang baru yang dilihat oleh generasi ini. Nostalgia akan masa lalu tersebut dianggap sebagai dampak dari fantasi akan kesejahteraan dan wibawa bentukan Orde Baru, dan harusnya bisa didaur ulang untuk menjadi narasi-narasi baru yang segar–atau malah sebaiknya dihilangkan sama sekali. Kerinduan, rupanya, bisa menjadi hal yang lucu dan bermasalah.

Raka Ibrahim

Lahir di Surabaya. Tulisannya pernah dimuat di beberapa media independen seperti Gigsplay, Jakartabeat, Indoprogress, dan Jurnallica. Pada 2013, ia mendirikan webzine independen Disorder Zine bersama kawan-kawannya. Entah kenapa terpilih sebagai salah satu peserta Lokakarya Kritik Seni Rupa yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta dan ruangrupa pada 2014. Saat ini aktif di Pamflet, Koalisi Seni Indonesia, dan RutgersWPF.